EKONOMI

Jumat, 15 Februari 2019 | 14:33 WIB

Sindir Anggaran Riset Minim, Bos Bukalapak Dibully

iwan purwantono
Sindir Anggaran Riset Minim, Bos Bukalapak Dibully
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Gara-gara tagar #uninstallbukalapak yang viral karena menyinggung pendukung Joko Widodo di alam media sosial (medsos), CEO Bukalapak Achmad Zaky jadi kondang. Menarik, siapakah sosok ini.

Pria berkacamata kelahiran Sragen, Jawa Tengah pada 24 Agustus 1986 ini, adalah pendiri e-commerce Bukalapak berbasis marketplace C2C. Di mana, Zaky memilih untuk fokus di sektor usaha kecil menengah alias UKM.

Sejak SD, Zaky sudah hobi utak-atik komputer. Baru pada 1997, hobinya tersalur berkat sang paman yang membelikan komputer serta setumpuk buku pemprogaman. Ketika menjadi siswa SMAN 1 Solo, Zaky mewakili sekolahnya di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang komputer. Dan, dia menang hingga tingkat nasional.

Selanjuta pada 2004, Zaky melanjutkan kuliah di Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung. Semester pertama, Zaky berhasil mendapat IPK 4.00. Di bangku kuliah, Zaku pernah mendirikan sejumlah organisasi kemahasiswaan. Dia tercatat sebagai salah satu penggagas ShARE Global Student Think-Tank di ITB. Pendiri Entrepreneur Club ITB yang kemudian dikenal dengan Technoentrepreneur Club (TEC ITB). Zaky pun punya kesibukan di Amateur Radio Club (ARC) ITB.

Soal prestasi selama kuliah, jangan ditanya. Zaky langgaran juara kompetisi tingkat nasional. Salah satunya juara II pada Indosat Wireless Innovation Contest tahun 2007. Ia membuat perangkat lunak yang disebut MobiSurveyor. Perangkat ini berguna untuk melakukan perhitungan cepat dalam sebuah survei.

Zaky juga mendapatkan Merit Award pada kompetisi INAICTA (Indonesia ICT Awards) pada 2008. Dan, Zaky sempat meraih beasiswa studi ke Oregon State University dari pemerintah Amerika Serikat, selama dua bulan pada 2008. Selain itu, Zaky mewakili ITB dalam ajang Harvard National Model United Nations 2009.

Lalu apa musabab pendukung Jokowi marah gegara tagar #uninstall yang dirilis Bukalapak? Ternyata lantaran cuitannya yang dinilai kritis. Zaky mengungkap soal minimnya anggaran R&D pada 2016 hanya US$2 miliar. Jauh di bawah negara lain yang sudah menyediakan anggaran jumbo untuk R&D.

Semisal, Amerika Serikat menjadi negara pertama yang menyediakan anggaran R&D super jumbo sebesar US$511 miliar, dan China US$451 miliar.

alam cuitannya, Zaky mengungkap soal anggaran R&D yang sangat minim tahun 2016 yang hanya US$ 2 miliar. Atau tertinggal jauh dari negara lain yang sudah menyediakan anggaran R&D.

Misalnya Amerika Serikat menjadi negara pertama yang menyediakan angagran R&D sebesar US$ 511 miliar, China US$ 451 miliar. Ya pantaslah teknologi kedua negara itu maju pesat. Di bagian lain, Zaky menuliskan harapannya. "Mudah-mudahan presiden baru bisa naikin."

Kontan, netizen pendukung Jokowi itu tak terima dan langsung membully Zaky. Bahkan menghujat Zaky dengan pepatah kacang lupa akan kulitnya. Dengan asumsi, Presiden Jokowi selama ini sangat mendukung e-commerce.

Tak mau memperpanjan persoalan, Zaky memilih mengalah. Dia meminta maaf. Saya, Achmad Zaky selaku pribadi dan sebagai salah satu pendiri Bukalapak, dengan ini menyatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas pernyataan yang saya sampaikan di media sosial. Saya sangat menyesali kekhilafan tindakan saya yang tidak bijaksana tersebut dan kiranya mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya, kata Zaky, Jakarta, Jumat (15/2/2019)

Selain itu, ia sangat berterima kasih atas kebijakan serta dukungan pemerintah Indonesia yang diberikan selama ini kepada Bukalapak. Pihaknya dengan ini menyatakan akan terus berkomitmen untuk membangun Indonesia melalui teknologi. Duh, Zaky...[ipe]

#PresidenJokowi #ECommerce #BukaLapak
BERITA TERKAIT
Harapan KCN, Komitmen Jokowi Hadirkan Investasi
Jokowi Imingi KIP Kuliah Luar Negeri, Masuk Akal?
Kalau Jokowi Menang, Rizal Ramli Khawatirkan China
Ekspor UMKM, Jempol NasDem untuk Kontribusi Jokowi
PUPR Kebut 4 Tol Trans Sumatera Rampung Tahun Ini
Langgar Janji tak Impor Pangan, RR Sindir Jokowi?
Zaman Jokowi, Utang Luar Negeri Makin Numpuk

ke atas