MOZAIK

Jumat, 08 Maret 2019 | 00:04 WIB

Betulkah Kecanggihan Teknologi Membawa Bahagia?

KH Ahmad Imam Mawardi
Betulkah Kecanggihan Teknologi Membawa Bahagia?
(Foto: Istimewa)

BAHWA semakin modernnya teknologi dan ilmu pengetahuan itu menjadikan hidup kita lebih mudah adalah kesimpulan yang sulit dibantah. Faktanya, komunikasi masyarakat bisa lebih efisien, menghemat tenaga dan waktu. Apakah ia juga menjadikan komunikasi semakin efektif adalah persoalan lain.

Bahwa semakin majunya pembangunan infrastruktur itu juga menjadikan transportasi dan mobilitas masyarakat semakin lancar adalah kesimpulan yang juga sulit dibantah. Faktanya, kegiatan ekonomi semakin beragam dan terlihat semakin aktif. Apakah ia juga menjadikan kita merasa semakin puas dengan penghasilan kita adalah pertanyaan lain yang perlu juga dicari jawabannya.

Pertanyaan penting yang ingin saya diskusikan adalah apakah kemajuan zaman dengan kecanggihan teknologinya dan kemodernan peradabannya menjadikan kita semakin bahagia? Untuk membantu mempercepat menemukan jawaban adalah mempertanyakan apakah jumlah orang bahagia pada zaman ini lebih banyak ketimbang zaman dahulu?

Kata bahagia adalah kata yang sedari dahulu sudah ada. Usianya setua usia kata menderita. Pada setiap masa, ada orang yang bahagia sebagaimana ada juga orang yang menderita. Kalaulah kemajuan teknologi yang menjadikan orang bahagia, niscaya orang jaman dahulu pasti banyak yang menderita. Faktanya, menurut Daniel Goleman, manusia zaman modern adalah manusia yang paling banyak menderita dan paling tinggi potensi stresnya. Mengapa?

Ada banyak faktor yang menarik untuk didiskusikan. Yang paling penting untuk disebut adalah bahwa penentu bahagia adalah bukan faktor luar diri melainkan faktor dalam diri. Bagaimana hati menyikapi atau merespon faktor luar adalah jauh lebih kuat ketimbang bagaimana faktor luar mempengaruhi faktor hati.

Buktinya? Tidak semua orang yang bergaji tinggi lebih mudah tersenyum dibandingkan pekerja kasar bergaji rendah. Lebih dari itu, kita sering lebih mudah menemukan wajah senyum bersahabat di gubuk sederhana ketimbang di rumah mewah. Salam pagi, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Penyakit 'Aku Capek Hidup' Mulai Menggejala
Persoalan Nyata dari Kisah Nyata tentang Zakat
Hakikat Kehidupan dan Cara Terbaik Menyikapinya
Kapan Kita Terakhir Mendengar Firman Allah?
Serba-serbi Bulan Puasa
Pelajaran Kehidupan yang sangat Bernilai
Belum Bisa Tersenyum? Belajarlah pada Kakek Bijak

kembali ke atas