MOZAIK

Rabu, 13 Maret 2019 | 01:11 WIB

Kekuatan Ikhlas

KH Abdullah Gymnastiar
Kekuatan Ikhlas
(Foto: Istimewa)

ADA yang sakit cuci darah, dan dirinya tak bisa menerima harus cuci darah seminggu 2 kali, sehingg hari hari dijalani penuh derita lahir bathin. Namun setelah menyadari bahwa inilah takdir terbaik, yang Allah tetapkan bagi dirinya saat ini sesudah sekian lama diberi takdir sehat.

Inilah takdir terbaikku, kehidupan normalku adalah cuci darah seminggu 2 kali, maka kehidupan menjadi nyaman dan kembali ternikmati.

Setiap orang memiliki episode masing-masing, dan berganti saat, berganti pula episode. Kemampuan ridho kepada takdir, membuat hidup lebih nyaman dan berkah.

Allah Taala berfirman, Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS. Al Hadid: 22-23)

Allah Taala berfirman, Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Qs. Al-Qamar: 49). Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Qs. Al-Furqan: 2). Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu. (Qs. Al-Hijr: 21)

Mengimani takdir baik dan takdir buruk, merupakan salah satu rukun iman dan prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga dia beriman kepada takdir, yaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu berlaku atas ketentuan (qadha) dan takdir (qadar) Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya. (Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari Abdullah bin Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: Sanad hadits ini shahih. Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rahimahullah)

Jibril alaihis salam pernah bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengenai iman, maka beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab, Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir serta qadha dan qadar, yang baik maupun yang buruk. (Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya di kitab al-Iman wal Islam wal Ihsan (VIII/1, IX/5))

Dan Shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma juga pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Segala sesuatu telah ditakdirkan, sampai-sampai kelemahan dan kepintaran. (Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (IV/2045), Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/452), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (I/32), dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/23)).

Allah Taala pun telah berfirman, Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS. Al Baqarah: 216). [smstauhiid]

#InilahKehidupan #AaGym
BERITA TERKAIT
Syukur Pengundang Karunia
Allah yang Maha Menyaksikan
Nikmatnya Ridho Terhadap Takdir
Hanya Berharap kepada Allah Taala
Dosa Terhapus oleh Sedekah
Hidup Sederhana
Menjemput Rizki Bukan Mencari Rizki

ke atas