MOZAIK

Jumat, 15 Maret 2019 | 00:04 WIB

Tentang Anak Yatim, Hadiah Seorang Kepala Sekolah

KH Ahmad Imam Mawardi
Tentang Anak Yatim, Hadiah Seorang Kepala Sekolah
(Foto: Ilustrasi)

SEMUA tahu tentang mulianya orang yang menyantuni anak yatim. Ayatnya jelas dan haditsnya tegas. Banyak orang berlomba berbuat baik pada anak yatim baik di lingkungan masyarakat umum atau di lingkungan sekolah. Anak yatim mendapatkan perhatian khusus.

Di sebuah sekolah, kepala sekolah ingin sekali berbagi bahagia dengan anak yatim di sekolah itu. Beliau berkata: Anak-anak, lahir ditinggal orang tua jangan menjadi sebab kalian larut dalam kesedihan. Semangatlah, masa depanmu cerah. Ada banyak mereka yang lahir ditinggal orang tua tapi dia sukses menjadi memimpin dunia. Nabi Muhammad adalah di antaranya. Siapa di antara kalian yang lahir ditinggal orang tua, majulah ke depan. Saya akan memberikan tas dan seragam sekolah gratis untuk kalian.

Tepuk tangan pun gemuruh. Beberapa anak maju ke depan dan berbaris. Ada yang tersenyum bahagia dan ada pula yang menangis haru teringat orang tuanya. Namun ada pula yang diam kaku membeku. Kepala sekolah membagikan bingkisan hadiah itu. Sang penerima bersalaman dan mencium tadzim tangan sang kepala sekolah.

Sampailah giliran pada seorang anak yang mulai tadi diam kaku membeku. Kepala sekolah kaget dan bertanya: Mengapa kamu juga maju? Kan bapakmu masih hidup? Anak itu menjawab lugu: Ketika saya dilahirkan, saya ditinggalkan orang tua saya, yakni ayah saya. Waktu itu kata ibuku, bapakku sedang ke sawah. Jadi saya lahir tanpa kehadiran bapak.

Para guru tertawa. Rupanya anak itu salah memahami definisi anak yatim yang dikemukakan oleh kepala sekolah. Atau, jangan-jangan definisi dan penjelasan kepala sekolah yang kurang pas. Tesenyumlah selama belum ada undang-undang larangan tersenyum. Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Persoalan Nyata dari Kisah Nyata tentang Zakat
Hakikat Kehidupan dan Cara Terbaik Menyikapinya
Kapan Kita Terakhir Mendengar Firman Allah?
Serba-serbi Bulan Puasa
Belum Bisa Tersenyum? Belajarlah pada Kakek Bijak
Mengakrabkan Diri dengan Rizki Kita
Penentu Harga Sesuatu

kembali ke atas