NASIONAL

Jumat, 15 Maret 2019 | 19:50 WIB

Efek Elektoral Jokowi Usai Penangkapan Rommy

R Ferdian Andi R
Efek Elektoral Jokowi Usai Penangkapan Rommy
(inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Penangkapan Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan berdampak secara politis bagi PPP dan pasangan nomor urut 01 Jokowi-Maruf. Pasalnya, Rommy termasuk tim inti dari paslon nomor urut 01.

Penangkapan Romahurmuziy dalam operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK di Jawa Timur tentu bakal mempengaruhi politik pemilu 2019 ini. Pemilu 2019 yang bakal digelar satu bulan lagi atau tepatnya pada 17 April 2019 ini tentu bakal memberi dampak bagi PPP dan pasangan calon nomor urut 01.

Posisi Rommy saat ini strategis, yakni sebagai Ketua Umum DPP PPP sekaligus Wakil Ketua Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf. Rommy kerap pasang badan bagi pasangan Jokowi-Ma'ruf ini khususnya terkait isu keagamaan. Seperti belum lama ini, Romy menjadi garda terdepan melawan narasi yang menyebut Jokowi sebagai sosok anti Islam. Rommy pula yang menyebut, di kubu Prabowo-Sandi, saat ini kelompok eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) banyak di barisan paslon nomor urut 02.

Romy dan Jokowi juga memiliki kedekatan khusus. Saat pencarian cawapres Jokowi, nama Rommy juga masuk daftar yang tersimpan di saku Jokowi. Jokowi juga tak segan-segan memuji Romy di depan umum. Saya lihat fotonya Pak Rommy ada di mana-mana. Pak Rommy yang berpeci hitam tampak ganteng, Pak Romi yang berpeci putihpun juga tampak ganteng, memang sudah dari sananya sudah ganteng, puji Jokowi, pertengahan April tahun lalu, saat hadir dalam peringatan Harlah PPP di Semarang.

Penangkapan Rommy ini, meski dinilai oleh kubu TKN Jokowi-Ma'ruf sebagai perkara pribadi, tetap saja, perkara ini memberi dampak politis bagi paslon 01. Meski, pendukung Jokowi membuat narasi dalam penangkapan kasus ini merupakan bentuk hukum di era Jokowi tidak tebang pilih. Ini merupakan bukti nyata pemerintah, seperti yang selama ini telah ditunjukkan memiliki komitmen tinggi dalam pemberantasan korupsi, sebut anggota TKN Fiki Satari di Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Absennya Rommy dalam hiruk pikuk jelang Pilpres 2019 ini tentu akan memberi dampak pada dukungan dari pemilih berlatarbelakang PPP bagi paslon 01. Terlebih, dalam sejumlah riset, pemilih PPP disebut tidak banyak yang memilih Jokowi. Seperti survei yang dilakukan Indikator yang mengungkapkan pemilih PPP sebanyak 43,2% pemilihnya justru memilih Prabowo-Sandi.

Temuan itu akan semakin menggenapi preferensi pemilih PPP jika disandingkan dengan peristiwa saat ini melalui operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Ketua Umumnya. Di poin ini, dukungan konstituen PPP terhadap Jokowi makin sulit untuk solid, sepeninggal Rommy yang terjerat kasus korupsi.

Sisa waktu satu bulan jelang Pemilu 2019 ini, barisan pendukung Jokowi khususnya dari partai yang kerap pasang badan dalam isu-isu keagamaan yakni PPP akan semakin merepotkan barisan Jokowi. PPP dan Rommy selama ini dikenal mengisi kelemahan Jokowi dari sisi isu agama. Mau tidak mau, TKN Jokowi Maruf harus mengisi kekosongan ini sepeninggal Rommy, misalnya memaksimalkan peran PKB dalam sokongan terhadpa isu-isu agama bagi Jokowi-Ma'ruf.

#Rommy #PPP #KPK
BERITA TERKAIT
Polri: Pelaku Dipermalukan Novel di Kasus Korupsi
Polri Bentuk Tim Teknis untuk Ungkap Kasus Novel
TPF Ungkap Serangan ke Novel Bukan untuk Membunuh
KPK Periksa Direktur Keuangan Waskita Karya
KPK Periksa Mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar
KPK Temukan Uang Berserakan Dikamar Gubernur Kepri
KPK Waspadai Korupsi Sektor SDA Jadi State Capture

kembali ke atas