MOZAIK

Senin, 08 April 2019 | 11:29 WIB

Berbincang-bincang Seusai Hembusan Nafas Terakhir

KH Ahmad Imam Mawardi
Berbincang-bincang Seusai Hembusan Nafas Terakhir
(Foto: Ilustrasi)

SAYA tak lagi bicara tentang kehidupan di alam barzakh atau alam kubur. Saya ingin berbagi cerita tentang apa yang terjadi pada seseorang di alam dunia ini setelah dirinya menghembuskan nafas terakhir. Saya tak lagi bicara sesuatu yang bersifat mistis tentang ruh bergentayangan atau sejenisnya. Saya ingin berkisah hal nyata, sesuatu yang riil terjadi di alam dunia ini yang berhubungan dengan orang yang sudah meninggal.

Bisakah orang yang sudah meninggal itu berbincang-bincang dengan orang yang masih hidup? Itulah pertanyaan yang akan saya jawab dengan singkat. Jawabannya adalah bisa. Singkat sekali jawaban ini, bukan? Lalu, muncul pertanyaan berikutnya, bagaimana caranya? Nah, jawaban tuntas akan pertanyaan kedua ini tak bisa ringkas. Dibutuhkan kuliah satu semester untuk menjelaskannya. Namun ijinkanlah saya memaksakan diri menjawab ringkas dengan merujuk pada dawuh para tetua kampung nan bijak: Orang yang sudah mati itu masih bisa berbicara, namun tidak dengan mulutnya sendiri, melainkan melalui mulut orang lain.

Iya, benar. Ada banyak orang yang dalam diamnya tengah berbincang-bincang dengan orang yang sudah meninggal. Kalimat-kalimat yang pernah dilontarkannya, senyuman yang pernah dipersembahkannya, dan uluran tangan yang pernah dilakukannya ternyata tetap hidup menjelma menjadi kalimat yang tak pernah mati. Lebih dari itu, sering kita mendengar petuah, nasehat dan ujaran orang yang sudah lama meninggal dunia yang diucapkan kembali oleh satu dua orang atau banyak orang. Ternyata, tubuh boleh saja terkubur namun apa yang dikatakan dan dilakukan itu masih bisa terus hidup entah sampai kapan.

Berbahagialah mereka yang kata dan perbuatannya itu berupa kebaikan-kebaikan. Kebaikan-kebaikan itu akan terus hidup walau pemilik kata dan perbuatan itu sudah meninggal dunia. Sebaliknya, celakalah mereka yang kata dan perbuatannya adalah berupa kejelekan atau kejahatan. Walau pemilik kata dan perbuatan jelek itu sudah meninggal, kejelekan dan kejahatannya tetap hidup entah sampai kapan.

Pilihkah kata dan kalimat yang baik untuk diucap dan dituliskan. Pilihlah sikat dan perbuatan yang baik dan bermakna untuk dipersembahkan pada kehidupan sekitar kita. Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Prinsip Hidup agar tak Terjatuh dalam Kecewa
Bahagiakan Diri dengan Membahagiakan Orang Lain
Kenikmatan Ibadah, Siapakah Pemiliknya?
Guide Kehidupan Menuju Arah Bahagia yang Tepat
Menjadi Manusia Terbaik, Manusia Pilihan
Mengapa Kita Harus Senantiasa Bersyukur?
(Mat Kelor Berhaji Lagi (30)) Didaulat Khutbah Jumat, Berhutbah Tentang Keluarga

kembali ke atas