MOZAIK

Jumat, 10 Mei 2019 | 06:00 WIB

Ramadan Indah Bersama Alquran

Ramadan Indah Bersama Alquran
(Foto: ilustrasi)

BULAN Ramadan adalah bulan yang penuh dengan warna ketaatan. Selain ibadah puasa di siang hari, kaum muslimin dapat menikmati keindahan tadabbur dan tilawah Alquran di malam hari. Dengan merenungkan ayat-ayat Alquran itulah ketenangan jiwa akan didapatkan.

Allah taala berfirman (yang artinya), Ingatlah, bahwa dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang. (QS. Ar-Rad: 28). Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan berdzikir kepada Allah dalam ayat ini adalah Kitab-Nya. Yaitu, tatkala seorang mukmin mengetahui kandungan hukum dari ayat-ayat Allah yang menunjukkan kepada kebenaran maka hatinya pun merasakan ketentraman. Sebab hatinya tidak bisa merasakan ketentraman tanpa ilmu dan keyakinan, sementara ilmu dan keyakinan itu bisa diperoleh dengan memperhatikan Kitabullah tersebut (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 418 cet. Ar-Risalah)

Membaca dan merenungkan ayat-ayat Alquran adalah bagian dari zikir. Sementara kedudukan zikir bagi seorang insan laksana air bagi seekor ikan. Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengatakan, Zikir bagi hati laksana air bagi ikan. Apakah yang akan terjadi jika ikan dipisahkan dengan air? Bagaimana mungkin seorang hamba mengaku mencintai Allah, sementara hati dan lisannya kering dari mengingat dan memuji-Nya?

Demikianlah yang telah dipraktikkan oleh salafus saleh. Mereka adalah suatu kaum yang mengagungkkan Kitabullah dengan semestinya. Mereka tidak hanya mengimani Alquran sebagai bacaan ataupun wahyu dari sisi-Nya, tetapi mereka juga menerapkan ajarannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika mereka mendapatkan predikat generasi terbaik umat ini. Gelar yang layak mereka sandang, sebab Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya. (HR. Bukhari dari Utsman bin Affan radhiyallahuanhu)

Para sahabat radhiyallahuanhum telah menjadi teladan bagi generasi berikutnya dalam menjadikan Alquran sebagai jalan hidup mereka. Oleh sebab itu mereka pun mulia di sisi Allah karena ketakwaan mereka, kedalaman ilmu mereka, amal saleh mereka, dan kecintaan mereka yang teramat besar terhadap Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum dengan Kitab ini dan akan merendahkan sebagian yang lain dengan Kitab ini pula. (HR. Muslim dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahuanhu)

Mereka adalah sebuah generasi yang telah ridha terhadap Allah, Islam dan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Mereka tidak rela untuk menjual keimanan dan tauhid yang mereka miliki dengan kenikmatan dunia apapun. Mereka lebih memilih disiksa daripada harus menuruti kemauan thaghut dan dedengkot kekafiran. Seperti Bilal bin Rabah radhiyallahuanhu yang rela tubuhnya tersengat teriknya panas padang pasir dan kesakitan di bawah tindihan batu dengan kalimat Ahad, Ahad yang terus mengalir dari bibirnya yang mulia. Itulah manisnya iman yang mereka gapai dengan segenap pengorbanan dan perjuangan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul. (HR. Muslim dari al-Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahuanhu)

Para sahabat hidup di bawah naungan Alquran. Sehingga ayat-ayat suci itu mewarnai hidup dan kehidupan mereka, mewarnai hati dan tingkah laku mereka. Tidak sebagaimana kaum Khawarij yang hanya menjadikan Alquran sebagai hiasan di bibir dan lisan mereka. Akan tetapi, pemikiran dan keyakinan mereka melesat dari agama sebagaimana melesatnya anak panah menembus sasarannya.

Kaum Khawarij itulah -meskipun mereka memiliki banyak hafalan Alquran dan bersungguh-sungguh dalam beribadah-kelompok orang yang mendapatkan celaan keras dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Merekalah yang disebut sebagai anjing-anjing neraka. Sejelek-jelek manusia dan seburuk-buruk kaum yang terbunuh di bawah kolong langit ini. Bahkan, bagi orang yang berhasil membunuh mereka Nabi janjikan pahala yang besar di sisi Allah pada hari kiamat kelak.

Para sahabat radhiyallahuanhu tidak memandang Alquran sebagai kumpulan dongeng atau cerita pelipur lara belaka. Bahkan, mereka menjadikan Alquran sebagai undang-undang kehidupan mereka dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, dalam hidup individu dan rumah tangga. Mereka pun tidak menganggap bahwa masa berlakunya hukum-hukum Kitabullah hanya untuk dua atau tiga generasi saja. Bahkan, Alquran itu cocok dan sesuai dengan segala masa dan suasana. Oleh sebab itu Abdullah bin Masud radhiyallahuanhu berpesan, Ikutilah tuntunan dan janganlah kalian mengada-adakan ajaran baru, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.

Para sahabat radhiyallahuanhum menjadikan Alquran sebagai sesuatu yang harus diyakini dan diamalkan, bukan sesuatu yang harus diragukan apalagi untuk diperdebatkan! Mereka sangat yakin bahwa Alquran adalah sebaik-baik pembicaraan, sejujur-jujur perkataan, dan sebaik-baik petunjuk bagi kemanusiaan.

Ia diturunkan dari sisi Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Tidaklah datang kepadanya kebatilan, dari arah depan, maupun dari arah belakang. Seandainya seluruh manusia bersatu padu untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, niscaya mereka akan gagal dan tidak sanggup melakukannya, meskipun mereka bahu-membahu dan saling membantu satu dengan yang lain. Tidak mungkin mereka bisa menandingi mukjizat yang agung ini. Inilah kemuliaan Alquran yang akan membuat tentram dan sejuk hati insan beriman. Dan sebaliknya, ia tidak akan mendatangkan pengaruh kepada orang-orang yang zalim kecuali kerugian dan kebencian.

Salafus saleh telah memberikan teladan kepada kita dalam mewarnai bulan yang mulia ini dengan interaksi yang intensif bersama al-Quran. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri setiap tahunnya menyetorkan hafalan Alquran kepada Jibril alaihis salam di setiap malam di bulan Ramadan. Demikian pula salafus saleh, mereka memperbanyak membaca Alquran di bulan Ramadan, di dalam maupun di luar salat.

Az-Zuhri rahimahullah berkata apabila telah masuk bulan Ramadan, Sesungguhnya ini adalah kesempatan untuk membaca Alquran dan memberikan makanan. Imam Malik rahimahullah, apabila telah datang bulan Ramadan maka beliau menutup majelis hadis dan mengkhususkan diri untuk membaca Alquran dari mushaf. Qatadah rahimahullah pada bulan Ramadan mengkhatamkan Alquran setiap tiga malam, sedangkan pada sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkannya setiap malam. Begitu pula Ibrahim an-Nakhai rahimahullah, pada sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkan Alquran setiap dua malam (lihat Majalis Syahri Ramadhan karya Syaikh Utsaimin, hal. 26-27 cet. Dar al-Aqidah). [muslimorid]

#Ramadan #Alquran
BERITA TERKAIT
Cuma Alquran Kitab Suci yang Bisa Dihafal
Ini Dia Tempat Alquran Asli Disimpan
Awas! Islam Tinggal Nama, Alquran Tinggal Tulisan
Berkurban Atas Nama Orang Meninggal Kenapa tidak?
Yuk, Jangan Lewatkan Salat Sunah Fajar
Bila Perusahaan atau Majikan Terlambat Bayar Gaji
Jarum Suntik Sang Dokter

kembali ke atas