EKONOMI

Kamis, 16 Mei 2019 | 18:09 WIB

Trade War, BI Evaluasi Defisit Transaksi Berjalan

Trade War, BI Evaluasi Defisit Transaksi Berjalan
(Foto: ist)

INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menaikkan sasaran defisit transaksi berjalan ke rentang 2,5%-3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2019. Sebelumnya absolut di level 2,5% dari PDB.

Gubernur BI, Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (16/5/2019), mengatakan, dua penyebab utama potensi ekspor Indonesia tidak sekencang perkiraan karena meningkatnya tensi perang dagang AS dan China, serta pertumbuhan ekonomi global yang semakin melambat. "Tidak bisa menafikan perlambatan ekonomi global, perang dagang, yang berdampak ke seluruh dunia baik dari sisi perdagangan maupun sisi finansial," ujar Perry.

Bahkan, Perry menyebutkan ekspor semakin sulit dijadikan sumber pertumbuhan ekonomi, jika melihat dinamika perkembangan ekonomi global terutama dari AS dan China yang kerap berbalas kebijakan memahalkan tarif impor.

AS dan China merupakan mitra dagang Indonesia. Jika keduanya menderita kontraksi perdagangan internasional, maka Indonesia tidak akan luput terimbas dampaknya.

China merupakan sasaran ekspor komoditas Indonesia, sedangkan AS adalah penerima ekspor manufaktur Indonesia. "Sumber pertumbuhan ekspor sulit dijadikan andalan," tukasnya.

Perry menekankan revisi ini juga karena Bank Sentral harus realistis dalam menetapkan sasaran defisit transaksi berjalan. Namun, kata Perry, BI dan pemerintah tidak akan melonggarkan upaya untuk meningkatkan ekspor. "Kami tidak longgarkan. Kami lihat sejumlah barang itu masih kompetitif untuk mendorong ekspor. Misalnya ekspor otomotif, CPO, kebijakan B20. Kita mendapat banyak peluang untuk ekspor," ujar dia.

Perubahan proyeksi defisit transaksi berjalan ini juga tidak lepas dari membengkaknya defisit perdagangan pada April 2019 hingga US$2,5 miliar atau membalikkan capaian surplus pada tiga bulan sebelumnya.

Jika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS), penyebab defisit perdagangan di April 2019 adalah penurunan ekspor yang semakin tajam hingga 13,10 persen secara tahunan atau secara bulanan 10,80 persen.

Penyebab memburuknya ekspor adalah terus melemahnya harga komoditas di antaranya harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia crude price (ICP), selain permintaan ekspor yang melamban karena penurunan pertumbuhan ekonomi dunia. [tar]

#BankIndonesia #TradeWar
BERITA TERKAIT
BI Sebut Kabar Baik Neraca Perdagangan Bulan Juni
The Fed Melunak, BI Sunat Suku Bunga Pekan Ini?
Sembilan Fraksi Oke, Selamat Bertugas Bu Destry
Kinerja Industri Pengolahan Masih Level Ekspansi
Mekeng: Nasib Destry Ditentukan Besok
Kuartal II, Perekonomian Nasional Bergerak 'Woles'
Risiko Terburuk Proyek YY Bak Film Deep Horizon

kembali ke atas