EKONOMI

Jumat, 17 Mei 2019 | 00:39 WIB

Neraca Dagang Tekor, Dirjen Migas Salahkan Lebaran

Indra Hendriana
Neraca Dagang Tekor, Dirjen Migas Salahkan Lebaran
Direktur Jendera Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Djoko Siswanto (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Neraca dagang April 2019 mengalami defisit alias tekor hingga US$2,5 miliar. Angka ini terburuk sepanjang sejarah. Pemicunya, impor minyak dan gas bumi (Migas) tak bisa direm. Celakanya, Lebaran disalahkan.

Direktur Jendera Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Djoko Siswanto mengklaim, impor migas menjadi faktor utama terjadinya defisit neraca perdagangan.

Kata Djoko, tingginya impor lantaran melonjaknya kebuhan migas menjelang Lebaran 2019. "Sudah itu saja, (impor migas) untuk lebaran kan meningkat, untuk puasa lebaran," kata Djoko di Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Pasca Lebaran, Djoko yakin mpor migas akan turun. Apalagi Indonesia saat ini tengah melakukan pengurangan impor migas di sektor impor solar dan avtur, serta mengurangi impor minyak mentah.
"Kita kan impornya juga turun. Solar dan Avtur turun, crude juga turun impornya," kata Djoko

Selain mengurangi impor, Indonesia kata dia, juga mengurangi ekspor gas dan meningkatkan penyerapan gas di dalam negeri. Sehingga ketegantungan terhadap energi yang dipasokan dari luar negeri berkurang.

"Ekspor kurang digunakan untuk dalam negeri. Gunakan gas lebih banyak tahun ke tahun gunakan dalam negeri tidak kita ekspor. Sudah dua itu saja. Impor menurun," ujar dia.

Sebelumnya, BPS mencatat defisit atas neraca perdagangan Indonesia pada April 2019, sebesar US$2,5 miliar. Defisit ini disawer perdagangan sektor migas dan non migas, masing masing sebesar US$1,49 miliar dan US$1,01 miliar.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, defisit pada April tersebut merupakan terbesar sejak Juli 2013. Defisit serupa pernah terjadi pada Juli 2013 sebesar US$2,33 miliar.

Adapun pada April ekspor Indonesia naik sebesar 10,8% menjadi US$12,6 miliar, sedangkan impor naik lebih tajam sebesar 12,25% menjadi US$15,1 miliar jika dibandingkan bulan sebelumnya. Defisit migas menjadi biang keladi dari ini semua. Yakni defisit sebesar US$2,76 miliar. Sedangkan non migas mengalami surplus sebesar US$0,2 miliar.[ipe]

#MenteriJonan #BPS #Defisit #NeracaPerdagangan #Migas
BERITA TERKAIT
Neraca Dagang September Tekor Lagi US$160 Juta
Jelang Pelantikan Jokowi, BPS Catat Ekspor Anjlok
Efisiensi Migas Masih Jeblok, Jonan Jadi Geregetan
NTT Miliki SPBU Terindah
SKK Migas Gandeng KKKS Gelar FM Forum 2019
Arifin: Gross Split Bikin Investor Enggan Masuk
Sebentar Lagi Pensiun, Jonan Punya Mimpi Listrik

kembali ke atas