MOZAIK

Senin, 20 Mei 2019 | 01:11 WIB

Harap dan Takut kepada Allah

KH Abdullah Gymnastiar
Harap dan Takut kepada Allah
(Foto: ilustrasi)

APABILA engkau ingin dibukakan oleh Allah pintu harapan, maka perhatikan kebesaran nikmat-nikmat dan rahmat Allah yang melimpah kepadamu. Dan bila engkau ingin dibukakan bagimu pintu takut, maka perhatikan amal perbuatanmu terhadap Allah. (al-Hikam, no.160).

Kita seringkali berharap sesuatu dari mahluk, seperti berharap dipuji, dihargai maupun dibalas budi. Kitapun sering merasa takut, misalnya takut dimarahi, dijauhi, tidak disukai atau dicintai, tidak diberi, dan sebagainya. Rasa takut pun seolah-olah menjadi sebuah ancaman yang sangat membahayakan dalam hidup.

Sesungguhnya, harap dan takut kepada mahluk akan membuat kita resah gelisah. Semakin kita berharap dan takut terhadap makhluk, semakin tidak tenang hidup ini. Oleh karena itu, harap (raja) dan takut (khauf) cukup hanya kepada Allah Taala saja.

Bukankah tidak ada satu pun makhluk yang bisa memberi manfaat bagi kita tanpa seizin Allah?

Sebesar apapun harapan kepada makhluk, apabila tidak diizinkan-Nya, dia tidak akan mendatangkan manfaat sekecil apapun.Demikian juga ancaman. Dari siapapun dan dimana pun kita terancam, tidak ada satupun yang yang dapat melukai atau hilang dari tubuh kita, kecuali atas izin pemiliknya, Allah Taala.

Allah yang menggenggam dan menggerakkan segala sesuatu. Cukup hanya kepada-Nya harap dan takut kita .Berharap dan takut hanya kepada Allah adalah salah satu jalan kebahagiaan. Jadi, siapa yang ingin bahagia, wajib baginya untuk hanya berhrap dan takut kepada Allah, bukan kepada sesama mahluk. Kita akan tampak aneh apabila mengharapkan sesuatu atau bergantung kepada makhluk yang sama-sama diciptakan.

Harap (raja) kepada Allah dapat ditanamakan dengan banyak mengingat segala yang di anugerahkan-Nya. Bagaimana rezeki kita selama ini selalu dicukupi tanpa pernah terputus. Atau, abgaimana dosa dan aib kita masih ditutupi-Nya. Semakin dalam kita mengingat semua karunia yang melimpah, semakin besar pula harapan kita kepada-Nya.

Adapun takut (khauf) kepada Allah dapat ditumbuhkan dengan cara mengingat dosa-dosa yang telah kita lakukan. Mulai dari salat yang tidak khusuk sampai aneka perbuatan maksiat; baik sekedar lirikan mata atau sembunyi-sembunyi sampai kebusukan didalam hati. Semakin jauh kita mengingat dosa-dosa dan sadar bahwa setiap maksiat itu pasti ada balasannya, kita pun akan semakin takut kepada Allah Taala.

Nah, seseorang yang terus menanamkan harap dan takut hanya kepada-Nya, insya Allah segala resah dan gelisah akan hilang. Allah yang Maha Baik, Maha Menguasai dan Menggerakkan segala sesuatu yang baik, juga akan semakin dekat kepadanya. Dia pun akan memperoleh yang terbaik menurut kesempurnaan ilmu-Nya.

Banya berharap dari makhluk pasti mendatangkan gelisah dan kecewa. Namun sebaliknya, hati yang berharap hanya kepada Allah niscara teang dan tercukupi.

KH.Abdullah Gymnastiar, ed. 2015. . Bandung (ID): Emqies Publishing.)

#InilahKehidupan #AaGym
BERITA TERKAIT
Ketika yang Paling Serius Tidak Diseriusi
Perbaiki Diri karena Allah
Rumus Kehidupan
Ikhlas Mendoakan Sesama
Harap dan Takut kepada Allah
Hamba Pilihan Allah
Bila Sedang Dikuasai Amarah

kembali ke atas