MOZAIK

Senin, 20 Mei 2019 | 00:09 WIB

Belum Bisa Tersenyum? Belajarlah pada Kakek Bijak

KH Ahmad Imam Mawardi
Belum Bisa Tersenyum? Belajarlah pada Kakek Bijak
(Foto: ilustrasi)

DALAM kitab Al-Iqd al-Farid karya Ibnu 'Abdi Rabbihi al-Andalusi dinyatakan bahwa salah satu cara kita bisa tenang dalam hidup adalah dengan bergaul dengan orang-orang yang telah berusia tua. Dari mereka kita bisa mendapatkan kesimpulan hidup, dari mereka kita bisa belajar banyak hikmah hidup. Ini alasan mengapa saya paling suka mencari orang yang paling sepuh saat saya berkunjung ke mana tempat.

Saya senang saat di undang dalam acara group LANSIA. Kakek nenek banyak berkumpul ingin mengaji tentang urgensi pembangunan mental spiritual untuk tetap menjadi bahagia di masa tua. Saya bagikan kisah berikut sebagai pendamping acara ini, tepatnya sebagai pengisi waktu menunggu waktu ceramah saya.

Seorang kakek tua duduk-duduk di pinggir kolam ikan samping rumahnya. Kolam itu dihiasi dengan bunga teratai hijau dan subur. Airnya tenang sekali. Sesekali ikan-ikan piaraannya mengintip sang kakek, kakekpun terkekeh-kekeh tertawa sendirian. Sungguh setiap orang punya cara sendiri untuk menghibur diri. Yang paling kasihan dalam hidup ini adalah orang yang kehilangan cara menghibur diri karena dirinya telah dipenuhi oleh ambisi dan kompetisi.

Cucunya yang masih sekolah di kelas dua SD tiba-tiba menghampirinya di pagi hari setengah siang itu sambil membawa makanan dibungkus daun buatan nenek yang menjadi kesukaan kakek. Cucunya kebetulan pulang agak pagi dari sekolah karena para guru ada rapat. Murid-murid bahagia. Saya tidak paham mengapa liburan menjadi lebih menarik ketimbang masuk sekolah. Mungkin karena sekolah telah gagal menghadirkan sesuatu yang menarik dan berguna bagi murid. Saya belum menyimpulkan karena belum meneliti.

Makanan berbungkus daun itu adalah klepon. Cucu bertanya mengapa klepon itu menjadi makanan favorit kakeknya. Dijawabnya sambil memakan satu klepon: "Klepon ini makanan tradisional asli indonesia yang dulu jaman penjajahan dikagumi oleh para penjajah. Mereka tidak habis pikir akan kesaktian orang Indonesia yang bisa memasukkan gula merah ke dalam klepon yang tidak berlubang itu." Kakek cucu kompak tertawa dalam damai. Ternyata, bahagia itu murah dan bisa di mana saja.

Cucunya bertanya lagi tentang beda kakeknya ketika muda dulu dan kakeknya yang sekarang sudah tua itu. Sambil mengangkat tongkatnya dengan tangan sedikit gemetar, kakek itu menjawab: "Dulu, ketika kakek masih muda, kakek bersepakat dengan kesehatan untuk bersama-sama mengejar uang. Sekarang, sudah tua begini, kakek dan uang bersepakat mengejar kesehatan." Cucunya tak paham, rupanya pelajaran SD belum menyentuh pelajaran kehidupan. Namun saya yakin para pembaca paham apa yang dimaksud kakek.

Keduanya terus berkisah sambil sesekali tersenyum. Cucu memijat punggung sang kakek sambil menikmati tarian ikan yang ikut merasa bahagia bersama. Bahagia itu murah dan bisa di mana saja. Anda belum merasa bahagia? Bergabunglah dengan si kakek di Ponpes Kota Alif Laam Miim. Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Syukuri Apa Yang Ada, Pasti Ada Keajaiban Hidup
Menunggu Hidayah, Beginikah Caranya?
Dunia itu Berputar
Mengapa Kita Tak Boleh Menghina Orang Lain?
Orang Sederhana dengan Konsep Hidup Sederhana
Kehidupan Otentik itu Membahagiakan
Urgensi Kehalalan dan Kepantasan

kembali ke atas