PASAR MODAL

Senin, 20 Mei 2019 | 00:17 WIB

Apa IHSG Bisa Bangkit?

Wahid Ma'ruf
Apa IHSG Bisa Bangkit?
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Peluang IHSG pada pekan ini terbuka ruang terjadinya rebound, namun hanya sebatas technical rebound dalam fase tren turun.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, IHSG terus meluncur ke bawah dan memasuki fase downtrend. Penurunan IHSG bahkan langsung menembus beberapa area support penting di level 6.117 dan 5.970. Bahkan penurunan IHSG sempat membuat gap dikisaran 6.107-6.135 . Indikator teknikal MACD yang masih bergerak turun di bawah centreline, mengindikasikan bahwa IHSG sedang bearada dalam trend bearish.

"Technically, kondisi ini membuka peluang bagi IHSG untuk masih bergerak turun menuju target dikisaran 5750 hingga 5620. Level area tersebut akan menjadi area support kuat bagi penurunan IHSG dalam jangka pendek," katanya seperti mengutip hasil risetnya, Minggu (19/5/2019).

Adapun jika terjadi rebound maka IHSG akan membuka ruang kenaikan menuju 5.970 hingga 6.117. Gap area dikisaran 6107-6135 tampaknya akan menjadi resistance cukup kuat bagi IHSG dan belum akan dilewati dalam waktu dekat.

"Jika gagal melewatinya, maka IHSG masih berada dalam tren turun. IHSG berpeluang melanjutkan pelemahannya lagi, hingga tercapai titik keseimbangan baru apabila terjadi konsolidasi yang signifikan sehingga membuka ruang terjadinya bottom reversal."

Untuk pekan ini, tidak ada data dan agenda ekonomi penting nasional, selain menunggu keputusan KPU yang akan mengumumkan hasil Pemilu 2019 dan Pilpres pada hari rabu tanggal 22 Mei. Ancaman teroris dan gerakan demo jelang pengumuman tersebut, membuat stabilitas politik terganggu sehingga meningkatkan ketidakpastian bagi pasar.

Kondisi politik tersebut membuat para investor cenderung melakukan aksi wait and see dan menjauhi market untuk sementara dengan melepas portfolionya, untuk menghindari resiko apabila terjadi hal-hal buruk yang diluar perkiraan.

Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para investor pada pekan ini, diantaranya adalah Senin 20 Mei 2019, Rilis data GDP Jepang. Selasa 21 Mei 2019 : Pidato Ketua The Fed Jerome Powell, Meeting kebijakan moneter Bank Sentral Australia (RBA).

Rabu 22 Mei 2019 : Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data inflasi Inggris, Meeting The Fed. Kamis 23 Mei 2019, Rilis data GDP dan manufaktur Jerman, Pemilu parlemen Eropa. Jumat 24 Mei 2019 : Rilis data inflasi Jepang, Rilis data penjualan ritel Inggris, Rilis data durable goods.

Tersengat Konflik AS-China
Bursa Wall Street melemah di akhir pekan, didorong ketegangan perang dagang AS dan China yang berlanjut. China menambah ketegangan perang dagang menjadi semakin sengit dengan AS, setelah menyerang dengan nada yang lebih agresif dan menyarankan pembicaraan lebih lanjut bisa membuahkan hasil kecuali AS mengubah arah. Penurunan Wall Street disokong oleh saham sektor industri dan teknologi.

Dow Jones turun 98,68 poin (-0,38%) menjadi 25.764, S&P 500 kehilangan 16,79 poin (-0,58%) menjadi 2.859,53 dan Nasdaq merosot 81,76 poin (-1,04%) menjadi 7.816,29. Ketiga bursa saham utama AS melanjutkan pelemahannya secara mingguan, dengan Dow Jones turun -0,69%, S&P 500 melemah -0,76% dan Nasdaq kehilangan -1,27%.

Investor Asing Hindari IHSG
Sementara dari dalam negeri, IHSG melemah 68,87 poin (-1,17%) ke posisi 5.826,86 di akhir pekan. Investor asing terus mencatatkan net sell dengan melepas saham di pasar reguler senilai Rp852 miliar. Dalam sepekan IHSG anjlok -6,16% dengan disertai keluarnya dana asing sebesar Rp3,98 triliun di pasar reguler.

Penurunan indeks dalam 5 hari perdagangan berturut-turut menggenapi pelemahan IHSG selama sepekan. Praktis dengan penurunan tersebut, sepanjang pekan kemarin tidak ada sehari pun IHSG berakhir di zona hijau.

Kondisi ini menenggelamkan IHSG, sehingga secara year to date IHSG turun -5,93% di tahun 2019 ini, menyentuh level terendah 6 bulan sejak November 2018.

Berbagai sentimen negatif menjadi faktor penyebab turunnya IHSG. Dari ekternal, sentimen perang dagang antara AS dan China masih membebani psikologis pasar. Sementara dari dalam negeri, rilis data ekonomi yang lebih buruk dari perkiraan dan kondisi ketidakpastian politik jelang pengumuman hasil pilpres tanggal 22 Mei oleh KPU, menjadi faktor penekan bagi IHSG.

Transaksi berjalan dan necara perdagangan Indonesia sama-sama mengalami defisit. BI melaporkan defisit transaksi berjalan (CAD) kuartal-I 2019 sebesar 2,6% dari PDB.

Sementara defisit neraca perdagangan bulan April mencapai US$2,5 miliar. Sementara pernyataan capres Prabowo Subianto yang menolak hasil perhitungan KPU, dan mendeklarasikan kemenangan berdasarkan hasil perhitungan internal, menimbulkan ketidakpastian politik dalam negeri.

Tergangunya stabilitas politik ini sudah terlihat sejak sepekan setelah pencoblosan, IHSG terus merosot hingga membukukan penurunan 4 pekan beruntun, dengan disertai keluarnya dana asing dalam jumlah yang cukup besar.

Kondisi IHSG pada pekan lalu sungguh sangat menyedihkan. IHSG terpuruk dan menjadi bursa saham dengan penurunan terdalam di kawasan regional se-Asia Pasifik sepanjang pekan kemaren. Secara teknikal IHSG berada dalam trend bearish berat.

Namun akibat penurunan tajam sepanjang pekan lalu, memberi sedikit harapan adanya peluang untuk terjadinya teknikal rebound pada pekan ini.

#BursaSaham #DolarAS #IHSG #TrumpEffect
BERITA TERKAIT
Inilah Fakta Terbaru Sengketa Dagang Versi AS
Bursa Saham Eropa Bisa Lebih Rendah
IHSG Tergelincir 0,2% ke6.213,304 di Sesi I
Sengketa AS-China Selesai Bisa Jangka Panjang
(Ganggu Pasar Minyak Global) Siapa Manfaatkan Sengketa Iran-Saudi?
IHSG Masih Tergantung Negosiasi AS-China
Pekan Lalu, Asing Beli Bersih Rp53 Triliun

kembali ke atas