PASAR MODAL

Jumat, 24 Mei 2019 | 00:17 WIB

Perusahaan AS Tanggung Kenaikan Tarif Impor China?

Wahid Ma'ruf
Perusahaan AS Tanggung Kenaikan Tarif Impor China?
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Paris - Tarif AS untuk barang-barang China menyakiti target yang tidak diinginkan ketika perang perdagangan berlangsung, sebuah studi Dana Moneter Internasional menemukan.

Studi yang dirilis Kamis (23/5/2019), mengatakan bahwa pendapatan tarif yang dikumpulkan dari pungutan untuk barang-barang Tiongkok "telah ditanggung hampir seluruhnya" oleh importir AS.

China dan AS telah terlibat dalam perang dagang selama lebih dari setahun. Saat itu, mereka menargetkan barang bernilai miliaran dolar dengan tarif impor tinggi. Namun, "hampir tidak ada perubahan dalam harga perbatasan (ex-tarif) impor dari China, dan lonjakan tajam dalam harga impor pasca-tarif yang sesuai dengan besarnya tarif," kata studi tersebut seperti mengutip cnbc.com.

Presiden Donald Trump mengklaim pada tanggal 8 Mei bahwa pungutan yang lebih tinggi untuk barang-barang Tiongkok mengisi pundi-pundi AS hingga US$100 miliar per tahun. Tetapi IMF mengatakan defisit perdagangan bilateral antara China dan AS tetap "secara luas tidak berubah" bahkan dengan tarif.

Trump juga telah meningkatkan kemungkinan menaikkan tarif pada barang-barang Cina tambahan $ 300 miliar. Ini, menurut IMF, dapat merugikan konsumen karena perusahaan cenderung meneruskan biaya tambahan.

"Konsumen di AS dan Cina benar-benar merugi dari ketegangan perdagangan," kata laporan IMF, menambahkan tarif yang lebih tinggi juga bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi. "Sementara dampak pada pertumbuhan global relatif rendah saat ini, eskalasi terbaru dapat secara signifikan mengurangi sentimen bisnis dan pasar keuangan, mengganggu rantai pasokan global, dan membahayakan proyeksi pemulihan pertumbuhan global pada 2019."

#BursaSaham #DolarAS #IHSG #TrumpEffect
BERITA TERKAIT
Bursa Saham Asia Mulai Naik Tipis
Harga Minyak Berjangka Naik 1%
Inilah Pemicu Penguatan Wall Street
Trump Sebut Bursa AS Moncer di Era Kepemimpinannya
Pasokan NonOPEC Bisa Turunkan Harga Minyak?
Bursa Saham AS Berpotensi Positif
Bursa Saham Asia Berakhir Memerah

kembali ke atas