NASIONAL

Rabu, 05 Juni 2019 | 19:04 WIB

Muhammadiyah Minta Polisi Transparan Proses Bomber

Muhammadiyah Minta Polisi Transparan Proses Bomber
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir (Foto: Istimewa)

INILAH.COM, Yogyakarta - Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mendorong aparat penegak hukum transparan dalam memproses Rofik Asharuddin atau RA (23), pelaku teror bom di pos polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.

"Kepolisian harus menegakkan hukum seadil-adilnya dan transparan. Harus digiring ke pengadilan mereka yang berbuat teror agar tahu akar masalahnya seperti apa," kata Haedar di Yogyakarta, Rabu (5/6/2019).

Haedar menyinggung tindakan aparat hukum beberapa tahun lalu ketika menangani kasus teror. Yakni dengan mengambil tindakan tegas menembak mati saat proses penangkapan. Namun menurutnya tindakan dengan membawa pelaku ke pengadilan dapat membuka motif dan jaringan yang terlibat.

"Kan sering dulu hard approach, tembak mati. Sekarang pendekatan mau ke soft aproach, tapi tetap dalam hukum. Di pengadilan bisa tahu apa motifnya, kalau terlibat jaringan, apa maunya jaringan itu," papar Haedar.

Haedar pun menyampaikan beberapa kemungkinan pemicu aksi teror. Dia juga memberikan masukan kepada aparat hukum maupun pemerintah untuk menanggulangi aksi teror yang mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat.

"Dalam konteks strategi ke depan, berbagai macam kekerasan itu biasanya tumbuh dalam situasi yang antagonis, terutama kesenjangan sosial, ketidakadilan. Lalu orang ada pembenaran untuk melakukan tindakan seperti itu, tapi tetap tidak benar," paparnya.

"Pemerintah siapapun harus mulai punya strategi yang lebih progresif memecahkan masalah kesenjangan. Radikalisme apapun bentuknya, itu boleh jadi karena ada situasi-situasi yang rawan," imbuhnya.

Lebih lanjut ia juga meminta pemerintah melakukan proteksi lebih ketat terhadap penggunaan media sosial yang selama ini menjadi sarana penyebaran paham radikal.

"Karena itu harus ada banyak ruang sosial yang kita ciptakan bersama, termasuk medsos. Medsos bisa ciptakan efek yang merambat keluar dalam hal menciptakan ujaran dan tindakan radikal. Medsos sekarang lebih radikal, orang boleh bicara apa saja, bebas mendorong apa saja, nah kita, tugas Muhammadiyah termasuk, memoderasi medsos agar menjadi media yang konstruktif," pungkasnya.

#BomBunuhDiri #BomKartasura #Polri
BERITA TERKAIT
Tersangka Karhutla Jadi 185 Orang dan 4 Korporasi
Tak Langgar UU, Anggota Polri Sah di Jabatan Sipil
Polri Sebut Irjen Firli Tak Langgar Kode Etik
4 Korban Kecelakaan Cipularang Diduga perempuan
Bobol Bank BUMN Rp 16 Miliar, 2 Orang Ditangkap
175 Orang dan 4 Korporasi Jadi Tersangka Karhutla
Polisi Kejar Aktor Intelektual Lain Rusuh Papua

kembali ke atas