MOZAIK

Kamis, 13 Juni 2019 | 00:05 WIB

Kehidupan Otentik itu Membahagiakan

KH Ahmad Imam Mawardi
Kehidupan Otentik itu Membahagiakan
(Foto: Istimewa)

KATA otentik (authenticity) adalah kata yang banyak dicari dan digunakan oleh mereka yang menghendaki keaslian sesuatu, keorijinalan sesuatu, ke'sesuatuan' sesuatu. Lawan kata dari otentik adalah palsu, fake, spurious dan yang semakna. Yang otentik biasanya berharga jauh lebih mahal ketimbang yang palsu. Milikilah hidup yang otentik, bukan hidup yang penuh kepalsuan.

Kehidupan yang otentik adalah kehidupan yang menampilkan realitas diri apa adanya, tidak mengada-ada dan tidak memalsukan identitas serta realitas diri. Hanya orang yang jujur akan dirinya sendiri yang bisa memiliki kehidupan yang otentik ini. Mereka yang senang membohongi dirinya akan memalsukan keadaan dirinya dengan me-make up diri sedemikian rupa sehingga bisa kelihatan lebih "wah" dibandingkan aslinya. Persis dengan apa yang dilakukan oleh mereka yang "memoles" foto dirinya sehingga mengubah wajah aslinya.

Saat mudik, pulang kampung, ada yang sengaja menyewa mobil mewah atau memaksakan dirinya mengkredit mobil mewah di luar batas kemampuannya agar tampak lebih gagah dan sukses sebagai pekerja di kota besar. Apakah orang seperti ini bisa menemukan bahagia? Dia bisa menemukan senang sesaat namun tidak mungkin menemukan bahagia yang otentik. Dia hanya menggapai kebahagiaan semu nan palsu.

Orang yang terus menerus berkomentar bagai seorang cendekiawan kawakan padahal tak pernah membaca buku dan mengupdate keilmuannya adalah termasuk mereka yang tak berkehidupan otentik. Menampilkan diri sebagai orang pintar padahal aslinya bodoh adalah kepalsuan yang juga tak akan membahagiakan. Tampil apa adanya ternyata lebih terhormat dan lebih melegakan semua pihak.

Kehidupan Rasulullah dan para sahabat dekat beliau adalah potret kehidupan yang otentik. Beliau dan para sahabatnya tampil apa adanya dan mulia dengan kualitas otentik yang dimilikinya, bukan mulia karena ditopang hal lain di luar dirinya. Ada banyak orang yang "mulia" karena iklan diri yang massif. Biasanya, kemuliaan yang tak otentik seperti ini tak bertahan lama, ada masa yang terbatas sekali.

Lalu, apakah kira-kira yang paling kuat mengembalikan seseorangdari kepalsuan menuju otentik? Dalam bahasa lain, faktor apa yang paling kuat menjadikan seseorang berkehidupan otentik? Dalam pembacaan saya akan beberapa literatur, saya simpulkan bahwa yang paling kuat pengaruhnya adalah MENGINGAT KEMATIAN. Kesadaran seseorang akan pastinya kehadiran kematian bagi dirinya akan menghilangkan, minimal mengurangi, keinginan tampil penuh kepalsuan.

Kita sangat perlu sekali belajar hakikat makna dari kalimat "innaa lillaah wa innaa ilayhi raaji'uun." Pesan apa sesungguhnya yang di bawa kalimat mulia tersebut. Mengapa kalimat tersebut dibaca saat mendapatkan musibah? Ternyata, ingat bahwa kita akan mati itu sama pentingnya dengan ingat bahwa kita masih hidup. Hanya pribadi yang otentiklah yang bisa menyeimbangkan dua hal itu secara sempurna. Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Tiga Nasehat Imam Malik kepada Imam Syafii
Milikilah Hati Putih Bersih, Hidup akan Bahagia
Untuk yang Bersedih, Berkabung dan Menderita
Pilih Kata, Intonasi dan Bahasa Tubuh yang Baik
Syakir atau Syakur, Bukan Syakir atau Bukan Syakur
Berbicara
Syukuri Apa Yang Ada, Pasti Ada Keajaiban Hidup

kembali ke atas