EKONOMI

Jumat, 14 Juni 2019 | 04:09 WIB

Gejolak Global, Begini Asumsi Ekonomi Sri Mulyani

Gejolak Global, Begini Asumsi Ekonomi Sri Mulyani
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Dalam RAPBN 2020, pemerintah mematok nilai tukar rupiah di rentang Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per dolar AS (US$). Ada tiga alasan yang mendasarainya. Apa itu?

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut ketidakpastian global masih akan terjadi pada 2020, sehingga pemerintah mematok kurs rupiah ke level Rp14.000 hingga Rp15.000 per US$. Asumsi ini lebih rendah ketimbang perkiraan Bank Indonesia (BI) yang berada di Rp13.900-Rp14.300 per US$.

Sri Mulyani dalam rapat dengan Komisi XI DPR mengulas Pendahuluan RAPBN 2020 di Jakarta, Kamis (13/6/2019), mengatakan, ada tiga sumber ketidakpastian global. Pertama berlanjutnya perang dagang yang terus dilakukan Amerika Serikat dan China.

Berlarutnya perang dagang antara dua negara raksasa ekonomi dunia itu menimbulkan perkiraan bahwa pertumbuhan ekonomi global akan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. "Ada risiko berlanjutnya perang dagang, dan dampaknya ke pertumbuhan ekonomi dunia, di tengah pertumbuhan ekonomi global yang masih relatif lemah," ujar Sri Mulyani.

Fenomena kedua yang bisa menjadi sumber gejolak, adalah masih tingginya impor, karena Indonesia membutuhkan investasi untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Salah satu indikator investasi yakni Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ditargetkan Sri Mulyani pada 2020 untuk tumbuh 7%-7,4%. Pertumbuhan investasi di rentang tersebut dibutuhkan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi ke rentang 5,3% hingga 5,6% pada 2020. Sedangkan, sumber tekanan terhadap kurs yang ketiga adalah stagnasi harga komoditas yang akan mempengaruhi kinerja ekspor Indoneisa.

Seperti diketahui, Indonesia masih mengandalkan komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah untuk ekspor. "Namun, selain depresiasi, di 2020, ada juga faktor yang akan mendorong apresiasi rupiah seperti tidak berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter The Fed, Bank Sentral AS, dan masuknya arus modal asing seiring membaiknya perekonomian domestik," kata Sri Mulyani.

Selain asumsi kurs, bekas direktur pelaksana Bank Dunia ini, mengajukan beberapa asumsi makro kepada Komisi XI DPR untuk menjadi Pembicaraan Pendahuluan RAPBN 2020. Yakni, pertumbuhan ekonomi 5,3%-5,6%, inflasi 2%-4% (year on year/yoy), tingkat bunga Surat Perbendaharaan Negara (SBN) tiga bulan 5% - 5,6%, nilai tukar Rp14.000-Rp15.000 per US$, harga minyak mentah US$60-US$70 per barel. [tar]

#MenkeuSMI #RAPBN2020 #Kurs #PertumbuhanEkonomi
BERITA TERKAIT
DPR: Anggaran Ibu Kota Pindah Tak Masuk RAPBN 2020
2020 Ekonomi Bisa 7%, Jokowi Cuman Pasang 5,3%
Ini Anggaran Kemenhub di 2020 Senilai Rp42,7 T
Inilah Strategi Jaga Defisit 1,7% di Tahun 2020
Presiden Pasang Target PDB 2020 Sebesar 5,3%
(HUT RI Ke-74) Catatan Kritis Rizal Ramli untuk Jokowi
Dapat Anggaran Jumbo, PUPR Lanjutkan Infrastruktur

kembali ke atas