EKONOMI

Jumat, 14 Juni 2019 | 16:58 WIB
(Gagal Bayar JS Proteksi Plan)

YLKI: Dirut Jiwasraya Tanggung Jawab Duit Nasabah

Indra Hendriana
YLKI: Dirut Jiwasraya Tanggung Jawab Duit Nasabah
(Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pada 2013, PT Jiwasraya (Persero) meluncurkan produk asuransi plus investasi bernama JS Proteksi Plan. Produk ini menyasar nasabah kaya, namun sayang ujungnya bermasalah.

Premi minimal sebesar Rp100 juta, musti dibayarkan sekaligus alias tidak boleh dicicil. Yang menarik, imbal hasil dijanjikan minimal 7% plus masa pertanggungan asuransi selama lima tahun. Setelah satu tahun, nasabah bisa menarik dana investasi serta imbal hasil 7%. Dan, asuransi sampai tahun ke-lima. Menarik kan.

Namun, 10 Oktober 2018, perusahaan asuransi milik negara itu mengirim surat pada bank mitra, menjelaskan Jiwasraya gagal membayar polis jatuh tempo ke 1.286 pemegang polis senilai Rp802 miliar.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sularsi mengatakan, ini adalah tanggung jawab dari pihak manageman Jiwasraya. Sebab, managemen yang melakukan pengembangan dana investasi dari nasabah.

Dalam perjanjian ada setiap jatuh tempo, Jiwasraya mengembalikan dana 100% dari dana tersebut. Kalau misalnya dia tidak bisa mengembalikan, ini adalah kesalahan managemen Jiwasraya. Ke mana dana ini dikembangkan. Apakah dalam pengembangan tidak tepat sehingga menimbulkan kerugian kepada mereka, kata Sularsi dalam sambungan telpon, Jakarta, Jumat (14/6/2019).

Pertangungjawaban dari managemen itu kata dia, adalah suatu konsukeunsi dari investasi tadi. Di mana Jiwasraya tak bisa mengembalikan uang investasi yang sudah masuk jatuh tempo.

Siapa yang bertanggung jawab adalah dalam hal ini komisaris dan direktur utama yang mengembangkan dana itu kepada siapa dan untuk kegiatan apa. Itu kan tanggung jawab pengambil keputusan. Nah kalau kalau itu PT yang tanggung jawab ke dalam dan keluar adalah direktur utama dan komisaris, ujar dia.

Namun, Sularsi tidak menunjuk hidung managemen yang bertanggungjawab atas invetasi gagal bayar. Sebab, kata dia, sebagai wakil dari konsumen tidak mengetahui siapa managemen saat investasi ditanamkan. Konsumen hanya fokus mendapat keuntungan dari investasi itu. Kan konsumen tidak mengetahui dirut pada saat menanamkan, kata dia.

Adapun jabatan direktur utama saat itu dipegang oleh Hendrisman Rahim, sejak 2008. Pada periode yang sama dengan Hendrisman, posisi direktur keuangan diisi Hary Prasetyo. Selanjutnya, Asmawi Sjam ditunjuk sebagai Dirut Jiwasraya. Namun tak lama, bankir BRI ini digantikan Hexana Tri Sasongko yang sebelumnya menjabat direktur investasi dan IT.

Sekedar diketahui produk ini dijual lewat tujuh bank: Standard Chartered Bank, Bank KEB Hana Indonesia, Bank Victoria, Bank ANZ, Bank QNB Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Tabungan Negara (BTN). Mereka memasarkan JS Proteksi Plan ke nasabah-nasabah yang mereka tahu punya uang banyak. [ipe]

#Jiwasraya #PenyelewenganKeuangan #Fraud
BERITA TERKAIT
Tahun Ini, Produksi Migas Pertamina Lampaui Target
(Atasi Kekeringan) Petani Magetan Manfatkan Irigasi Air Tanah Dangkal
Operasi Penyelamatan Krakatau Steel
Rizal Ramli Pegang Kunci Pembuka Mega Skandal BLBI
(Atasi Gelembung Gas) Pertamina Kirim Tim Ahli ke Anjungan Laut Jawa
(Aturan Emas Digital) Tamasia Ikut Aturan, Pegadaian Melawan Bappepti
(Rayakan HUT ke-54) PGN Fokus Jalankan Peran Sub Holding Gas

kembali ke atas