EKONOMI

Minggu, 23 Juni 2019 | 06:09 WIB

Jiwasraya Gagal Bayar,Manajemen Lama Harus Dikejar

Jiwasraya Gagal Bayar,Manajemen Lama Harus Dikejar
(Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero) terhadap 1.286 pemegang polis senilai Rp802 miliar, jelas kesalahan manajemen lama. Perlu kepastian demi menyelamatkan duit nasabah.

Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sularsi mengatakan, gagal bayar Jiwasraya jelas kesalahan pihak manajemen.

"Kalau informasi yang kami dapat yang tidak didapatkan langsung bahwa memang diakui ada permasalahan pada saat waktu itu, pada saat likuiditas itu ada masalahnya. Keuangan dia ada masalah. Sehingga tidak bisa untuk melakukan pengembalian dana nasabah. Ada kesalahan internal dari sisi managemen," kata Sularsi dalam sambungan telpon, Jakarta, Jumat (14/6/2019).

Menurut dia, kesalahan managemen itu membuat membuat Jiwasraya gagal bayar kepada 1.286 pemegang polis asuransi dengan nilai Rp802 miliar. Tapi, sebagai konsumen tidak mau ambil pusing. Yang terpenting adalah uang mereka kembali.

"Kalau kesalahan dari sisi managemen, dalam pengembangan itu. Artinya kalau tidak bisa mengembalikan ada masalah didalamnya. Kalau dari sisi nasabah kami tidak ambil pusing. Yang jelas adalah pertanggungjawaban managemen pada konsumen," kata dia.

Sebab, kata dia, apapun yang dilakukan oleh siapapun di managemen itu urusan internal dari managemen. Nah, urusan konsumen dengan jiwasraya, lanjut dia, adalah bahwa kami melakukan kontrak dengan mereka dalam mengembangkan suatu investasi. "Kami punya hak meminta dana yang sudah diberikan untuk melakukan suatu investasi," ujar dia.

Diketahui, PT Jiwasraya di tahun 2013 meluncurkan produk yang bernama JS Proteksi Pla atau produk investasi plus perlindungan jiwa. Produk ini menyasar nasabah kaya, sebab premi minimal tak boleh lebih kecil dari Rp100 juta.

Premi atau uang yang dibayarkan musti sekaligus alias tidak boleh dicicil. Karena produk ini menjanjikan imbal hasil 7% plus masa pertanggungan asuransi selama lima tahun. Dimana setelah satu tahun, si nasabah boleh menarik uang beserta imbal hasil 7% dan tetap mendapatkan perlindungan asuransi sampai tahun ke lima.

Namun, Oktober 2018, perusahaan asuransi milik negara itu mengirim surat pada bank mitra, menjelaskan Jiwasraya gagal membayar polis jatuh tempo ke 1.286 pemegang polis senilai Rp802 miliar.

Nah, pada saat produk ini diluncurkan jabatan direktur utama saat itu dipegang oleh Hendrisman Rahim, sejak 2008. Pada periode yang sama dengan Hendrisman, posisi direktur keuangan diisi oleh Hary Prasetyo.

Sekedar diketahui produk ini dijual lewat tujuh bank: Standard Chartered Bank, Bank KEB Hana Indonesia, Bank Victoria, Bank ANZ, Bank QNB Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Tabungan Negara (BTN). Mereka memasarkan JS Proteksi Plan ke nasabah-nasabah yang mereka tahu punya uang banyak.

Berdasarkan data yang didapatkan INILAHCOM, laporan keuangan Jiwasraya sebelum 2018 tercatat cukup bagus. Ternyata, karena cadangan premi diperkecil dari profil resiko yang sebenarnya.

Di mana, cadangan ini merupakan biaya yang harus dibayar perusahaan di masa depan. Perhitungan cadangan dari perusahaan asuransi merupakan tugas aktuaris.

Selain itu, memperbesar proyeksi imbal hasil investasi, memperkecil cadangan premi. Dengan rendahnya cadangan premi mamperbesar laba perusahaan.

Praktik ini yang terjadi dalam laporan keuangan unaudited 2017. Di mana, Jiwasraya mencatatkan laba bersih Rp2,4 triliun. Atau naik 40% ketimbang 2016. Namun setelah dilakukan audit oleh PricewaterHousekeeper (PWC) terkuak, labanya cuman Rp328,44 miliar.

Diduga kuat, salah urus di Jiwasraya diduga telah terjadi sejak 2008. Kala itu, manajemen lama yakni Direktur Keuangan Hary Prasetyo dengan persetujuan Dirut Jiwasraya Hendrisman melepas Surat Utang Negara (SUN) dengan kupon 15% yang jatuh tempo 2024.

Selanjutnya dana dari SUN yang jumlahnya ratusan miliar itu, diinvestasikan ke pasar saham. Nah, dalam pelepasan SUN ini duduga banyak permainan yang bertujuan memperkaya diri sendiri. Ujung-ujungnya duit BUMN yang digerogoti.

Dalam sekejab dana-dana Jiwasraya masuk ke pasar modal. Celakanya, saham yang diborong adalah saham lapis tiga. Atau di kalangan trader, kelompok saham ini disebut junk stocks atau small-cap stocks, alias saham gorengan.

Sejatinya, pilihan investasi dari manajemen Jiwasraya yang kala itu dipimpin Hendrisman ke pasar saham, cukup aneh. Tingkat risiko saham lebih tinggi ketimbang instrumen investasi lainnya. Dengan kata lain, harga saham lebih mudah 'bergoyang' atau volatil. Apalagi saham yang dipilih adalah saham lapis tiga.

Sejumlah catatan investasi Jiwasraya di saham lapis tiga, sebagai berikut. Pada 29 Mei 2013, Jiwasraya menggenggam saham PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) sebesar 5,87%. Harga per lembar saham TRAM kala itu Rp1,300. Sehingga total investasi mencapai Rp760 miliar.

Pada 25 November 2019, harga saham TRAM longsor hingga Rp319,8 per lembar. Hingga kini harganya tak pernah melebihi bawah gopek. Pada 3 April 2014, Jiwasraya memborong 5,37% saham PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP), seharga Rp225 per lembar saham. Nilai investasinya mencapai Rp40 miliar.

Pada 2012, Jiwasraya membeli PT Capitalinc Investment Tbk (MNTF) sebanyak 7,28%. Sejak Juli 2016 hingga Desember 2018, MNTF pernah disuspensi perdagangannya 13 kali.

Pada 15 September 2016, Jiwasraya membeli saham PPRO sebanyak 709,26 juta lembar (5,04%), seharga Rp1.000 per lembar saham. Pada Desember 2016, Jiwasraya menambah kepemilikan saham di PPRO menjadi 7,73%. Per 23 Januari 2019 kepemilkan saham Jiwasraya di PPRO mencapai 8,59%. Per 24 Januari 2019, harga saham PPRO mencapai Rp115 per lembar saham. Bisa dibayangkan kerugian yang diderita Jiwasraya.

Pada 9 September 2016, Jiwasraya juga membeli saham Semen Baturaja (SMBR) seharga Rp1.555/lembar. Jadi, saham-saham tersebut pernah dimiliki Jiwasraya dengan porsi di atas 5%, yakni ABBA, SMRU, PPRO dan SMBR.

Sekedar catatan, Heru Hidayat ternyata punya jabatan penting di sejumlah perusahaan. Dia menjadi Presiden Komisaris (Preskom) di IIKP, Preskom TRAM, Preskom GBU dan Preskom Maxima Integra Investama.

Berdasarkan Majalan Forves, Heru termasuk 150 pengusaha tajir di Indonesia. Harta yang dimiliki pria 46 tahun ini mencapai US$440 juta. Sementara Harry Gunawan dikabarkan menjabat stafsus salah satu pejabat di Istana.

Dalam hal ini, manajemen Jiwasraya lama di bawah Hendrisman dan Harry terlampau gegabah dalam berinvestasi saham, tidak mempertimbangkan pemberian imbal hasil produk sebesar 7% diskonto di muka.

Untuk mengembalikan dana nasabah, manajemen lama termasuk pihak luar yang terlibat, harus dimintai pertanggung jawaban. Kalau perlu seluruh hartanya disita. Jangan pakai uang negara lagi. [ipe]

#Jiwasraya #PenyelewenganKeuangan #Fraud
BERITA TERKAIT
Habis Gagal Bayar, Jiwasraya Bikin Anak Usaha
Pemprov Jabar Tambah Bus Turis untuk Cirebon
2020 Cukai Rokok Naik 23%, Darmin Sebut Itu Wajar
Perkuat Ekonomi Syariah, Sandi Bikin Koperasi
(Jabar Juara Pariwisata) Gubernur Kamil Siap Danai Pembangunan Telaga Biru
Gegara Asap,Penerbangan Garuda di Kalimantan Batal
Andalkan Start Up, Kamil Memberangus Ketimpangan

kembali ke atas