MOZAIK

Sabtu, 06 Juli 2019 | 00:06 WIB

Penyebab Fanatisme Buta

KH Ahmad Imam Mawardi
Penyebab Fanatisme Buta
(Foto: ilustrasi)

SALAH satu biang kerok penyebab konflik pendapat, aliran, atau golongan dalam masyarakat kita adalah fanatisme buta yang meniscayakan pelakunya untuk hanya membenarkan apa yang diketahui dan diyakini oleh kelompoknya dengan menafikan adanya kebenaran dalam kelompok lainnya.

Salah satu penyebab utama fanatisme buta itu adalah tak adanya kesempatan membaca, merenungkan dan memahami pendapat lain dari kelompok yang berbeda. Sangat biasa bahwa katak yang ada dalam tempurung itu menganggap tempurung di atas kepalanya sebagai langit yang banyak dibicarakan manusia. Semakin sempit wawasan dan bacaan seseorang, semakin besarlah peluang untuk terjangkit fanatisme buta. Kesimpulan sebaliknya adalah juga benar.

Solusi terjitu mengatasi fanatisme buta adalah dengan cara memperbanyak referensi bacaan dan pengalaman. Di atas itu semua, solusi puncaknya adalah dengan mempelajari metodologi berpikir, metodologi penelitian, cara mengkaji dan cara menetapkan hukum.

Kecenderungan masyarakat kini adalah langsung membaca dan kembali kepada dalil tanpa tahu bagaimana cara memperlakukan dalil itu. Kecenderungan umat Islam kini adalah langsung membaca satu hasil tanpa tahu prosedurnya dan tanpa tahu pandangan tandingannya. Klaim kebenaran tunggal pun terjadi, konflikpun tak tak terhindarkan.

Mereka yang mudah menuduh salah pandangan orang lain, mengkafirkan dan membid'ahkan orang lain sepertinya adalah manusia yang kurang membaca dan kurang belajar metodologi. Studi serius tentang cara dan proses berpikir serta menetapkan hukum sungguh perlu diagendakan selalu. Dengan cara inilah radikalisme bisa diminimalisir. Salam, AIM, Wakor Kopertais IV. [*]

#AIM #PencerahHati #AhmadImamMawardi
BERITA TERKAIT
Indahnya Islam, Hal Kecil yang Berfaidah Besar
Generalist Vs Specialist: Mana Paling Dibutuhkan?
Menata Hati untuk Menjadi Manusia Penuh Ridho
Allah yang Tahu dan Kita Tidak Tahu
Akmos Theory: The Power of Action
Apakah Kita Sudah Masuk Golongan Tua?
Menuju Mulia Bahagia Hakiki

kembali ke atas