DUNIA

Senin, 08 Juli 2019 | 06:10 WIB

Eropa Kecam Iran, Lampaui Batas Uranium

Eropa Kecam Iran, Lampaui Batas Uranium
(Foto: AP)

INILAHCOM, Jakarta--Beberapa negara Eropa mengecam keras keputusan Iran untuk meningkatkan pengayaan uranium hingga di atas yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir tahun 2015, yang membatasi program nuklirnya. Demikian VOA, Senin (8/7/2019).

Iran Minggu (7/7/2019) pagi mengumumkan bahwa pihaknya akan segera memulai pengayaan uranium melampau batas 3,67% yang dimandatkan dalam perjanjiannya dengan enam negara besar dunia.

Reuters melaporkan Iran mungkin akan meningkatkan pengayaan uranium hingga 5% untuk memproduksi bahan bakar bagi pembangkit listrik, meskipun Iran tidak segera mengungkapkan persentase pengayaan yang baru.

Inggris mendesak Iran untuk segera menghentikan dan membatalkan semua tindakan yang tidak konsisten dengan perjanjian tahun 2015, di mana Iran sebelumnya menerima pembatasan program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi.

Perancis mengatakan langkah Iran adalah pelanggaran pakta internasional. Sementara Jerman meminta Iran untuk menghentikan dan menyudahi semua kegiatan yang tidak konsisten dengan perjanjian empat tahun lalu itu.

Uni Eropa mengatakan negara-negara penandatangan yang tersisa--setelah AS menarik diri tahun lalu--sedang mempertimbangkan pertemuan darurat untuk menyampaikan tanggapan selanjutnya.

Presiden AS Donald Trump tahun lalu menarik dari dari perjanjian nuklir tahun 2015 dan memberlakukan kembali sanksi-sanksi ekonomi yang melumpuhkan Iran, dengan alasan Iran telah menggunakan kelonggaran sanksi itu untuk mendanai kegiatan destabilitasi di seluruh Timur Tengah. Negara-negara Eropa, termasuk Rusia dan China, telah berupaya keras menyelamatkan perjanjian nuklir itu. [voa/lat]

#konflik #as #iran
BERITA TERKAIT
Kapal Tanker Iran Tinggalkan Gibraltar
Kapal Tanker Iran Masih di Gibraltar
AS Serukan Penyitaan Kapal Supertanker Iran
Gibraltar Lepaskan Kapal Tanker Iran
Gibraltar Masih Tahan Tanker Iran
Kapal Inggris dan AS Berpatroli di Selat Hormuz
AS Terus Ikut Campur Urusan Hong Kong

kembali ke atas