EKONOMI

Senin, 15 Juli 2019 | 06:00 WIB

Petani Diminta Lebih Bijak Menggunakan Pestisida

Petani Diminta Lebih Bijak Menggunakan Pestisida
(Foto: Humas Kementan/dok)

INILAHCOM, Jakarta - Petani kerap kali menggunakan pestisida untuk mengendalikan hama penyakit untuk tanamannya. Namun, petani harus memahami perbedaan pengertian antara pestisida dan residu pestisida. Sehingga, petani lebih bijak dalam menggunakan pestisida.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 12 tahun 1992 Tentang Sistem Budidaya Tanaman, pestisida adalah zat atau senyawa kimia, zat pengatur dan perangsang tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman.

Residu pestisida menurut para pakar adalah zat tertentu yang terkandung di dalam produk, baik sebagai akibat langsung maupun tak langsung dari penggunaan pestisida. Ini mencakup senyawa turunan pestisida serta senyawa hasil konversi, metabolit, senyawa hasil reaksi dan zat pengotor yang dapat memberikan pengaruh toksikologik.

"Residu pestisida pada tanaman tidak dapat dilihatlangsung atau diterka kadarnya dengan mata telanjang," ujar Direktur Pupuk dan Pestisida, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Muhrizal Sarwani, Sabtu (13/7/2019).

Dijelaskannya, tingkat bahaya residu pestisida pada suatu produk digambarkan dalam Batas Maksimum Residu (BMR) pestisida. Ini berarti konsentrasi maksimum yang secara hukum diizinkan atau diketahui sebagai konsentrasi yang dapat diterima pada produk hasil pertanian. "Nilai ini dinyatakan dalam miligram residu pestisida per kilogram hasil pertanian," tambahnya.

Dalam penilaiannya, semakin kecil angka BMR suatu pestisida pada komoditas tertentu, menggambarkan semakin berbahanya pestisida tersebut. Dengan demikian, apabila hasil pertanian mengandung residu pestisida, bukan berarti tak aman konsumsi. Karena bisa jadi hasil deteksinya masih di bawah BMR.

Kementan selalu mendorong petani agar menerapkan budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Yaitu menggunakan lebih banyak pupuk organik, agensia hayati, pestisida nabati, sehingga produk yang dihasilkan lebih aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat, sehat untuk petani dan lingkungan.

"Yang terpenting adalah menurunkan biaya usaha tani sehingga produk lebih berdaya saing dan menambah kesejahteraan petani. Karena itu, gunakan pestisida dalam Enam Tepat, yaitu tepat sasaran, tepat mutu, tepat jenis, tepat waktu, tepat dosis dan konsentrasi serta tepat cara penggunaannya," paparnya.

Ia mengatakan, untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat dan berkualitas, maka harus tersedia pangan secara cukup dan bermutu. Sehingga beras yang dikonsumsi harus beras sehat bebas residu bahan kimia, khususnya residu pestisida yang dapat membahayakan kesehatan manusia, ungkapnya. [*/psp]

#PSP #DitjenPSP
BERITA TERKAIT
Ini Penyebab Klaim Asuransi Pertanian di Sumsel
Riset Bappenas Bukti Efektivitas Belanja Kementan
Lonjakan Ekspor Pertanian Kado 74 Tahun Indonesia
Anggaran Turun, Kinerja Pertanian Malah Melesat
Musim Kemarau Jadi Momen Tepat Sosialisasi AUTP
Program Serasi Buktikan Mampu Panen Tiga Kali
Kemarau, Dirjen PSP Pastikan Distribusi Air Merata

kembali ke atas