EKONOMI

Rabu, 17 Juli 2019 | 03:29 WIB

Tahun Ini, Setoran Pajak Meleset Rp140 T, Bu Ani..

Tahun Ini, Setoran Pajak Meleset Rp140 T, Bu Ani..
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Keuangan memperkirakan, penerimaan pajak sepanjang 2019 meleset sekitar Rp140 triliun dari target APBN 2019 sebesar Rp1.577,5 triliun.

Penyebabnya karena lesunya setoran melalui berbagai instrumen pajak menyusul tekanan berkelanjutan pada harga komoditas global, pertumbuhan impor yang melambat hingga percepatan restitusi atau pengembalian kelebihan bayar.

"Penyebabnya harga komoditas yang turun, kurs tidak selemah yang diduga, impor turun cukup drastis, restitusi dipercepat juga kita berikan," kata Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Robert Pakapahan usai Rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR, Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Proyeksi kekurangan penerimaan pajak (shortfall) itu timbul dari kajian sementara bahwa penerimaan pajak hingga akhir tahun hanya akan mencapai Rp1.437,53 triliun, atau 91% dari target APBN 2019 yang sebesar Rp1.577,55 triliun. Artinya, terdapat selisih hingga Rp140,02 triliun.

Jika proyeksi shortfall Kemenkeu itu tepat, maka angka kekurangan penerimaan pajak 2019 lebih besar dibanding 2018 yang hanya sebesar Rp108,1 triliun. Terjadi kenaikan shortfall hingga 29% pada tahun ini.

Jika dirinci, penerimaan pajak penghasilan (PPh) diperkirakan mencapai Rp818,56 triliun, atau 91,5% dari target. Kemudian, pajak pertambahan nilai sebesar Rp592,79 triliun, atau 90,4% dari target, pajak bumi dan bangunan Rp18,86 triliun atau 98,7% dari target, dan pajak lainnya Rp7,31 triliun atau 85% dari target.

Robert mengatakan, penerimaan pajak tahun ini memang dipengaruhi oleh gejolak ekonomi global sehingga berpengaruh pada melesetnya sejumlah asumsi makro.

JIka merujuk pada asumsi makro yang diperkirakan akan menjadi acuan sepanjang 2019, kurs rupiah diperkirakan akan berkisar Rp14.250 per dolar AS atau lebih rendah dibandingkan asumsi yang Rp15.000 per dolar AS. Dari kacamata stabilitas perekonomian, hal tersebut adalah penguatan kurs yang tentunya berdampak positif. Namun, bagi kinerja ekspor, penguatan kurs tersebut yang mencerminkan deviasi lebar dari asumsi makro akan berimbas pada melesetnya penerimaan negara.

Kemudian, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) juga diperkirakan hanya akan mencapai US$63 per barel dari asumsi APBN 2019 yang sebesar US$70 per barel.

Produksi siap jual (lifting) minyak dan gas (migas) juga diperkirakan lebih rendah dari target yaitu hanya 754 ribu barel per hari (bph) untuk minyak dan 1.072 ribu barel setara minyak per hari. Padahal di APBN 2019, target "lifting" minyak sebesar 775 ribu bph dan gas 1.250 ribu barel setara minyak per hari. "Ya shortfall sekitar segitu karena memang komoditasnya juga tertekan sehingga pengaruh ke penerimaan," ujar Robert.[tar]

#MenkeuSMI #Pajak #APBN2019
BERITA TERKAIT
Ini Anggaran Kemenhub di 2020 Senilai Rp42,7 T
Inilah Strategi Jaga Defisit 1,7% di Tahun 2020
Presiden Pasang Target PDB 2020 Sebesar 5,3%
Defisit 2020 Susut, Sri Mulyani Janji Ekonomi Oke
RAPBN 2020 Dikuras Tiga Kementerian Ini
Bayar PBB Makin Mudah Pakai JakOne Mobile Bank DKI
RR Sebut SMI Menkeu Terbalik, Ini Kata Said Didu

kembali ke atas