EKONOMI

Senin, 29 Juli 2019 | 15:21 WIB
(Lifting Migas Selalu Jeblok)

Kena Semprot Jonan, Bos SKK Migas Gigit Pertamina

Indra Hendriana
Kena Semprot Jonan, Bos SKK Migas Gigit Pertamina
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengaku kena marah Menteri ESDM Ignatius Jonan saat rapat pimpinan (Rapim). Penyebabnya, lifting minyak Indonesia terus menurun.

"Dibahas di rapim tadi, pemerintah sangat concern dengan kinerja lifting ini. Ini kan terkait pendapatan negara, negara itu kan lifting dan harga. Maka lifting ini tadi kena marah marah, kami kena marah, kata Dwi usai Rapim di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Sebab, dari 10 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) utama atau besar, enam yang turun. Nah, dari enam KKKS, lima adalah Pertamina. Dengan demikian, Pertamina ikut menyumbang turunnya lifting Migas Indonesia.

Bunyinya itu kan dari 10 atau 20 KKKS utama kami bahas, kemudian dari 10 besar ada 6 KKKS yang lifting turun dan dari 6 itu 5 adalah Pertamina. Pertamian EP, PHM, PHE OSES, PH ONWJ, PKHT, ujar dia.

Dengan begitu, dia meminta ke depannya Pertamina memperbaiki kinerjanya agar penurunan itu bisa ditahan. Apabila hal itu bisa dilakukan, Pertamina kedepan bisa diandalkan menjadi operator wilayah kerja (WK). Kami harapkan nanti, manajemen dan pegawai PTM bisa lebih fokus perbaiki kinerja, kata dia.

Dia mengamini, kinerja Pertamina dalam lifting migas akan lebih keras lagi. Hal ini karena ada peristiwa semburan gas dan tumpahan minyak di proyek YYA-1, Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang dioperatori oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) di Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat.

Memang di semester 2 lebih terganggu lagi karena ada kebocoran di ONWJ itu. Dirjen dan Waka SKK migas diminta bantu handle kebocoran di ONWJ itu. Proyek yang tadinya bisa onstream 2019 ini terpaksa tidak bisa capai target, ujar dia.

Sekedar diketahui, realisasi lifting minyak dan gas bumi (Migas) sampai semester I 2019 belum mencapai target. Atau baru 89% dari target APBN sebesar 2 juta barel setara minyak per hari (boepd).

Adapun rinciannya adalah total lifting Migas sebesar 1,8 juta BOEPD. Dengan rincian lifting minyak 752 ribu barel per hari (bopd) dan lifting gas 1,06 juta boepd.

Lifting migas kita dalam posisi decline saat ini sekitar 3%. Kalau tidak melakukan apa-apa maka dikline 20%, kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Menurut dia, dalam upaya meningkatkan produksi migas, SKK Migas menerapkan beberapa strategi jangka panjang. Antara lain, mempertahankan tingkat produksi eksisting yang tinggi di antaranya dengan melakukan reaktivasi sumur yang tidak berproduksi serta mengimplementasikan inovasi dan teknologi tepat guna.

Kemudian, menerapkan transformasi dari sumber daya hingga menjadi produksi migas dengan percepatan monetisasi. Selain itu juga menerapkan strategi enhanced oil recovery (EOR) dan strategi eksplorasi yang intensif.

Sementara itu, investasi hulu migas hingga Juni 2019 tercatat sebesar US$ 5,21 miliar. Jumlah ini meningkat 16% dibandingkan capaian di periode yang sama 2018. Investasi hulu migas ke depan diproyeksikan terus meningkat mengingat hingga 2027, terdapat 42 proyek utama dengan total investasi US$ 43,3 miliar.

SKK Migas mencatat, total produksi dari 42 proyek tersebut sebesar 1,1 juta boepd yang mencakup produksi minyak sebesar 92,1 ribu bopd dan gas sebesar 6,1 miliar kaki kubik per hari. Empat di antaranya merupakan proyek strategis nasional (PSN) hulu migas yang menjadi prioritas untuk meningkatkan produksi migas demi memenuhi konsumsi migas domestik. [ipe]

#MenteriJonan #Pertamina #SKKMigas #Lifting
BERITA TERKAIT
Efisiensi Migas Masih Jeblok, Jonan Jadi Geregetan
NTT Miliki SPBU Terindah
BBM Satu Harga Tuntas di Intim, Pertamina Emang Ok
SKK Migas Gandeng KKKS Gelar FM Forum 2019
Arifin: Gross Split Bikin Investor Enggan Masuk
PEPC Jalankan Tajak Sumur JTB Bojonegoro
Pertamina Masih Tunggu Valuasi Kilang Cilacap

kembali ke atas