EKONOMI

Senin, 29 Juli 2019 | 17:30 WIB

Ribuan Barel Minyak Pertamina Cemari Laut Jawa

Indra Hendriana
Ribuan Barel Minyak Pertamina Cemari Laut Jawa
(Foto: ist)

INILAHCOM, Jakarta - Tumpahan minyak ke laut dari proyek YYA-1 Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang dioperatori oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) di Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat dalam satu hari mencapai 3.000 barel.

Maka, sejak 12 Juli 2019 sampai dengan hari ini atau sekitar 17 hari, tumpahan minyak ke laut sudah sebsar 51.000 barel. Jumlah minyak ini sudah tersebar di 10 desa. Yakni delapan desa di Karawang, dan dua desa di Bekasi.

"Laporan dari tim di lapangan, kira kira semburan minyak itu sebesar kira kira 3000 bopd per hari konstan sejak 12 Juli," kata Plt Dirjen Migas Djoko Siswanto di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Dampak dari tumpahan minyak ini antara lain adalah nelayan setempat tidak boleh melaut ke dekat sumur. Kemudian petani tambak dan pohon mangrove juga ikut terdampak. Tapi, kata Djoko, tumpahan minyak itu sekarang sedang diatasi oleh Pertamina.

Kemudian, upaya lain untuk mematikan bocoran gas yang berada di sekitar sumur YYA-1 terus dilakukan agar gelembung gas dapat dihentikan juga dilakukan oleh Pertamina. Rencana konduktor akan ditajak hari ini. Kayak fondasi. Diamter 30 inch, bor miring nanti," ujar dia.

Menurut Djoko, saat ini Pertamina baru mengangkat 17.830 karung minyak dari laut. Tapi dia tidak merinci berapa barel minyak dari 17.839 minyak itu.

Djoko sebelumnya mengatakan, potensi gelembung gas disertai minyak di proyek YYA-1, Blok Offshore North West Java (ONWJ), berpotensi seperti bencana tumpahan minyak di Teluk Meksiko, Amerika Serikat yang difilmkan dengan judul Deep Horizon.

"Pernah menonton Deep Horizon nggak? Kejadian buruknya bisa seperti (film) itu," kata Djoko,di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Nah, untuk mencegah resiko terburuk itu, kata dia, anak usaha Pertamina itu saat ini tengah dilakilam upaya pencegahan. Salah satunya dilakukan pengeboran miring.

Namun, upaya tersebut mengakibatkan anjungan lepas pantai yang ada di YYA Blok ONWJ yang dioperatori Pertamina Hulu Energi (PHE) mengalami kemiringan, saat ini kemiringannya sudah mencapai 8 drajat.

"Sekarang sedang diupayakan dilakukan bor miring untuk menutup kebocoran gas blow out. Risikonya anjungan miring 8 drajat miringnya," tutur Djoko.

Menurut Djoko, Kementerian ESDM dan Pertamina sudah menurunkan tim untuk mengatasi gelembung gas tersebut, upaya tahap awal adalah menyelamatkan pekerja untuk menghindari korban jiwa, kemudian berikutnya adalah mengantisipasi kerusakan lingkungan.

"Tim kami sedang berada di lokasi sejak hari kejadian kan Jumat (12 Juli 2019), kami sudah mengirim ke sana. Masih di Pertamina crisis center," kata dia.

Sumur YYA-1 merupakan sumur reaktifasi di sekitar 2 Kilo Meter (KM) dari Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat. Gelembung gas muncul sejak Jumat (12/7/2019), dalam proses mengeboran untuk mengaktifkan kembali sumur YYA-1 untuk diproduksi kandungan minyak dan gasnya (migas). [ipe]

#Pertamina #ONWJ #SKKMigas #MinyakTumpah
BERITA TERKAIT
BBM Satu Harga Tuntas di Intim, Pertamina Emang Ok
SKK Migas Gandeng KKKS Gelar FM Forum 2019
PEPC Jalankan Tajak Sumur JTB Bojonegoro
Pertamina Masih Tunggu Valuasi Kilang Cilacap
Bisnisnya Beda, PIMD Bukan Pengganti Petral
Pertamina-Aramco Bahas Valuasi Kilang Cilacap
Pertamina-Aramco Bahas Valuasi Kilang Cilacap

kembali ke atas