TEKNOLOGI

Senin, 12 Agustus 2019 | 16:16 WIB

2019 Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah?

2019 Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah?
Sejumlah warga Paris bermain air di taman sekitar Menara Eiffel imbas tingginya suhu udara di ibu kota Prancis itu yang tercatat mencapai 42,6 derajat Celcius. (gettyimages)

INILAHCOM, Jakarta - Berdasarkan data yang dirilis jaringan satelit Uni Eropa, 2019 diperkirakan akan menjadi salah satu tahun terhangat sepanjang sejarah, demikian AFP melaporkan.

Gelombang panas yang melanda Eropa sepanjang Juli lalu mencetak rekor baru dengan suhu tinggi yang tak lazim terjadi di Lingkar Arktik.

Selama Juni dan Juli lalu, kebakaran hutan dalam skala dan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya, melahap wilayah Siberia, Rusia dan Alaska, AS dan melepaskan lebih dari 100 juta ton karbon dioksida ke atmosfer.

Pada waktu yang bersamaan, lapisan es yang menutupi Greenland mencair secara masif setiap harinya. Institut Meteorologi Denmark (DMI) mencatat, pada Juli saja, hampir 200 miliar ton lapisan es mencair.

"Juli biasanya menjadi bulan terhangat di seluruh dunia. Namun, berdasarkan data kami, Juli juga mencetak rekor sejarah sebagai bulan terhangat secara global dengan selisih yang sangat kecil," jelas Jean-Noel Thepaut, Kepala Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, dalam pernyataannya yang dikutip VOA News.

"Dengan emisi gas rumah kaca yang terus terjadi dan dampaknya pada suhu global, bukan tidak mungkin rekor suhu tertinggi akan terus terpecahkan di masa mendatang," imbuh dia.

Dibanding periode 1981-2010, suhu rata-rata selama Juli tahun ini mencapai titik tertingginya di Alaska, Greenland, Siberia, Asia Tengah, Iran, dan beberapa area besar di Antartika. Suhu di Afrika dan Australia juga diketahui berada di atas rata-rata.

Di seluruh dunia, Juli 2019 memang lebih hangat 0,04 derajat Celsius dari rekor sebelumnya pada Juli 2016.

Bukan lagi fiksi ilmiah

Rekor baru ini patut digarisbawahi karena rekor sebelumnya pada 2016 merupakan buntut dari parahnya fenomena El Nino yang menjadi faktor kenaikan suhu dunia selain pemanasan global.

El Nino adalah fenomena alam di wilayah timur Samudra Pasifik yang dipicu kenaikan suhu berkala dan terjadi setiap tiga sampai tujuh tahun sekali.

"Juli menulis ulang sejarah iklim, dengan banyaknya rekor suhu tinggi di tingkat lokal, nasional, hingga global," ungkap Petteri Taalas, Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), dalam pernyataannya beberapa hari lalu.

Menurut dia, pemanasan global menjadi biang di balik itu semua.

"Ini bukan lagi fiksi ilmiah. Ini adalah kondisi nyata dari perubahan iklim," tegas Taalas.

Menurut tim Copernicus dalam siaran persnya, tiap bulan pada tahun 2019, sejauh ini, berada di antara empat besar terpanas di masing-masing bulan sepanjang sejarah. Juni tahun ini terekam sebagai bulan Juni terpanas dibandingkan bulan-bulan Juni sebelumnya.

Pencatatan suhu secara akurat dapat ditelusuri kembali pada abad ke-19. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak tahun 1880-an.

Layanan Copernicus adalah jaringan besar pemantauan iklim berbasis satelit pertama di dunia yang melaporkan suhu rata-rata bulan Juli.

Eropa sendiri telah dilanda dua gelombang panas yang parah dalam hitungan minggu.

Rekor suhu tertinggi terpecahkan di seluruh penjuru Prancis, dengan suhu 46 derajat Celsius pada 28 Juni 2019 di Kota Verargues. Rekor sebelumnya adalah 44,1 derajat Celsius pada 2003 silam.

Gelombang panas kedua juga melumerkan Paris bulan lalu. Badan meteorologi Prancis, Meteo France, mencatat suhu tertinggi 42,6 derajat Celsius di Paris pada 25 Juli 2019, lebih panas dua derajat dari rekor sebelumnya pada 70 tahun yang lalu.

Pada semester pertama tahun ini, rekor suhu tertinggi juga terpecahkan di New Delhi (India), Anchorage (Alaska), Santiago (Chili), dan sebagian Lingkar Arktik.

Persetujuan Iklim Paris memerintahkan negara-negara untuk menahan laju pemanasan global di bawah dua derajat Celsius dari angka sebelum masa Revolusi Industri. Tahun 2018 lalu, laju pemanasan global berada di angka satu derajat Celsius.

#panas #pemanasanglobal #globarwarming #PBB
BERITA TERKAIT
Animo untuk iPhone 11 di Pasar Asia Tak Berkesan
Inikah Harga Resmi Realme 5 Pro di Indonesia?
Vivo Z1 Pro: Ponsel Terjangkau Berdesain Elegan
Toko Aplikasi Google Kini Punya Modus Gelap
Ini Deretan Smartphone Terbaik di IFA 2019
Menjaga Privasi di Facebook Cafe Jakarta
Telkomsel Serius Garap Mobile Gaming

kembali ke atas