MOZAIK

Senin, 12 Agustus 2019 | 15:12 WIB
(Mat Kelor Berhaji Lagi (7))

Menangis Mendoakan Orang Tua

KH Ahmad Imam Mawardi
Menangis Mendoakan Orang Tua
(Ilustrasi)

SAAT berihram untuk haji lalu berangkat ke Mina untuk tarwiyah hari kemarin, mata Mat Kelor terlihat sembab karena teteskan air mata. Sesekali saya lirik dia saat bertalbiyah. Tak nyaring suaranya dan matanya dipejamkan.

Jamaah yang lain sebenarnya juga terlarut dalam lantunan talbiyah yang sendu dan menyentuh hati. Saya penasaran dengan apa yang dipikirkan Mat Kelor hingga akhirnya menangis tersedu-sedu tidak seperti biasanya.

Saat turun bis, saya ikuti dan saya dudukkan di pojok tenda menanyakan apa yang dipikirnya. Dia menjawab bahwa kedua orang tuanya yang sudah almarhum itu hadir dalam pikirannya. Kedua orang tuanya terbayang terus, tersenyum pada Mat Kelor. Saat itu, kata Mat Kelor, dia mendoakan kebahagiaan untuk kedua orang tuanya dan memohon ampun atas dosa Mat Kelor pada kedua orang tuanya. Saya bertanya dosa dan kesalahan apa yang dilakukan Mat Kelor kepada kedua orang tuanya, karena sepengetahuan saya Mat Kelor adalah baik, santun, ceria dan lucu.

Mat Kelor bercerita bahwa pernah bohong kepada guru ngajinya dan menggunakan nama kedua orang tuanya sebagai alasan. Alkisah, Mat Kelor suatu malam terlambat datang ke langgar (surau atau mushalla) gara-gara terlalu asyik mengejar layangan putus di aduan layangan antar desa ini. Dia tak pulang ke rumah, melainkan langsung ke surau, karena takut dimarahi orang tuanya. Celakanya, dia malah mendapat marah dari guru ngajinya.

Guru ngaji bertanya alasan Mat Kelor terlambat. Mat Kelot sebenarnya mau jujur tapi takut semakin dimarahi dan dihukum. Mat Kelor menjawab: "Gara-gara sandal saya, ustadz." "Sandalmu kenapa?," tanya ustadz. "Sandal saya dipakai Bapak dan Ibu saya," jawab Mat Kelor. Ustadz bertanya lagi: "Kok bisa sandalmu dipakai dua orang. Ini alasan tidak masuk akal. Saya hukum kamu." Mat Kelor menjawab: "Bisa saja ustadz. Bapak dan ibu saya bertengkar saling bentak dan saling pukul. Bapak saya memukul memakai sandal kanan saya, ibu saya memukul memakai sandal kiri saya. Maka saya menonton dulu sampai perkelahian selesai baru sandalnya saya bawa ke surau ini. Perkelahian baru selesai, makanya saya terlambat."

Sang ustadz tertawa terbahak-bahak sampai tak sadar kentut tiga kali. Mat Kelor selamat dari hukuman ustadz, tapi tak selamat dari perasaan bersalah pada kedua orang tuanya. Kini kesalahannya ditebus dengan doa dan tetesan air mata di tanah suci. Ada yang nakalnya senasib dengan Mat Kelor? Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM #MatKelor
BERITA TERKAIT
Beratnya Berutang, Tak Boleh Hidup Bergaya Bebas
Terimakasih Atas Segala Kebaikan untuk Hidupku
(Mat Kelor Berhaji Lagi (15)) Berdoa Itu Beda dengan Minum Obat
Mengapa Kita Tak Boleh Malas Berdoa?
Belajar dari Air
(Mat Kelor Berhaji Lagi (14)) Tragedi Sandal Hilang
(Mat Kelor Berhaji Lagi (13)) Upacara Kemerdekaan di Hajar Aswad

kembali ke atas