EKONOMI

Rabu, 21 Agustus 2019 | 17:50 WIB

Indonesia Surganya Produk Asing, Rektor Saja Impor

Indra Hendriana
Indonesia Surganya Produk Asing, Rektor Saja Impor
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Suka atau tidak, Indonesia kini menjadi surganya produk impor. Bentuknya apa saja, tak hanya sandang ataupun papan. Muncul wacana impor rektor dari luar negeri. Walah.

Tak sedang bercanda, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir berniat merevisi Peraturan Pemerintah agar rektor asing bisa memimpin perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia.

Ya, mendatangkan rektor asing ke Indonesia, menurut Menteri Nasir, bisa mendongkrak kualitas PTN Indonesia ke level dunia. Selanjutnya dia menyebut, impor rektor ini merupakan hal yang lazim di berbagai negara. Ambil contoh Singapura (Nanyang Technological University/NTU) dan Arab Saudi. Di mana, NTU yang beridiri 1981, kini masuk peringkat 12 dunia.

Demikian pula PTN di Arab Saudi, awalnya peringkat 800 melompat ke posisi 189 dunia. Lantaran 40% pekerjanya termasuk rektor dan dosen adalah impor.

Direktur LBH Pendidikan & Ketua DPC Ikadin Jakarta Timur, Arie Tuanggoro bilang, rencana tersebut bagus-bagus saja, namun harus ditelaah lebih mendalam oleh pemerintah. "Secara prinsip mengapresiasi untuk kemajuan dunia pendidikan nasional tapi tetap harus mengacu kepada payung hukum yang jelas," kata Arie, Jakarta, Rabu (20/8/2019).

Hal itu, kata dia, supaya tidak menabrak dengan aturan atau regulasi yang sudah ada. Sebab, dalam aturan itu sudah jelas diatur mengenai sistem pendidikan serta tenaga pengajarnya. "Yaitu UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional lalu UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, PP No 37 tahun 2009 tentang Dosen serta Perpres No 10 Ttahun 2016 tentang dosen dan tenaga kependidikan pada PTN baru," ujar dia.

Dia bilang, dosen dan tenaga kependidikan wajib bertakwa kepada Tuhan YME, setia pada Pancasila dan UUD 1945 dan NKRI. Bagaimana mungkin rektor impor setia kepada Pancasila dan UUD 1945, bahkan NKRI. Disinilah tugas Menristekdikti untuk benar-benar memberikan masukan-masukan kepada presiden khususnya mengkaji relevansi mengenai kebutuhan rektor import pada saat ini," kata Arie.

Mengingatkan lagi, gagasan Nasir mendatangkan rektor dari luar negeri, mendapat gelombang penolakan yang luar biasa. Adanya rektor dari luar negeri, bisa meningkatkan kualitas pendidikan dan SDM di kampus.

Nasir kembali mencontohkan sejumlah negara yang berhasil menerapkan konsep rektor impor. "Kita belajar dari Singapura bisa maju karena rektor dari luar negeri. Taiwan maju karena rektor dari luar negeri, China maju karena rektor dari luar negeri. Bahkan Arab yang 800 tidak masuk, sekarang rektor dari Amerika 40 persen, Amerika dan Eropa, sekarang masuk 189. ini jadi tantangan, maka canangkan tahun 2020 bagaimana rektor ada dari perguruan tinggi asing. Akan saya petakan lagi," kata Nasir.

Kemenristekdikti akan membuat aturan soal rekrutmen rektor dari luar negeri itu. Selain itu koordinasi dengan Kementerian Keuangan juga dilakukan terkait pendanaan. "Budget bicarakan dengan Kementerian Keuangan, pendanaan dari pemerintah pusat agar tidak mengganggu keuangan perguruan tinggi itu sendiri, kalau ganggu memang problem. Nanti akan masukkan ke pos LPDP," kata Nasir. [ipe]


#Impor #Rektor #China
BERITA TERKAIT
China Tak Jelas, Luhut Beralih Bujuk Kadin AS
Bos KEIN Ingatkan Rakyat Hati-hati Industri 4.0
Jokowi Gagal Undang Investor Asing Karena Ini.....
Kain Impor Banjir, 9 Pabrik Tekstil Gulung Tikar
Rizal Sindir Pembantu Jokowi yang 'China Minded'
(Premi Naik Ugal-Ugalan) Sengkarut BPJS, RR Tunjuk Said Iqbal Punya Solusi
Fenomena Esemka Jokowi dan Mobil Made In China

kembali ke atas