MOZAIK

Minggu, 25 Agustus 2019 | 00:04 WIB
(Mat Kelor Berhaji Lagi (19))

Tukang Pijat Naik Haji Plus

KH Ahmad Imam Mawardi
Tukang Pijat Naik Haji Plus
(Ilustrasi)

ORANG kebanyakan berkata: "Haji itu panggilan." Maksud dari kata itu adalah bahwa naik haji itu bukan karena punya uang banyak atau karena kesehatan paripurna. Ada orang yang sejatinya tergolong tak berpunya dari sisi uang, namun ditakdirkan naik haji. Ada juga orang yang tak begitu sehat, namun berangkat haji. Ada seorang jamaah yang sakit parah berangkat haji dengan membawa lebih sekarung peralatan medis dan obat.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, saya bertemu dengan orang-orang tersebut di atas. Tanpa niat merendahkan penghasilan atau harta seseorang, saya selalu penasaran dengan beberapa jamaah yang kelihatan sangat biasa saja namun ikut haji plus yang biayanya sekitar Rp250 juta ke atas. Ada tukang bakar sate yang dengan isterinya naik haji plus, ada pula penjaga kebersihan masjid, dan ada pula yang tukang pijat.

Beberapa tahun yang lalu ada jamaah saya, tukang pijat, yang naik haji plus karena diminta bosnya untuk menyertainya haji. Si bos kebetulan adalah penikmat pijat memijat, seminggu 2 kali adalah jadwal tetapnya. Mat Kelor menemui saya bercerita juga bertemu dengan temannya di surau waktu kecil dulu yang ternyata berangkat haji plus juga karena barokah pijat memijat. Dia diberangkatkan salah satu tamu kiainya yang kagum akan pengabdiannya menjadi pelayan pondok dan tukang pijat kiai setiap saat dibutuhkan kiai. Karena sang tamu ini usahanya semakin sukses, maka sang kiai dan juru pijatnya ini diberangkatkan haji.

Mat Kelor menyimpulkan: "Pengabdian tanpa keluh kesah untuk agama Allah itu besar sekali barokahnya." Mat Kelor lalu bercerita bahwa ada juga tukang pijat yang gagal dalam kehidupan karena kurang ikhlas. Sebut saja namanya Karyo (nama samaran), seorang santri berbadan kekar yang disukai oleh kiai sebagai tukang pijat pribadinya. Pijatannya mantap dan antep. Namun si Karyo ini sering menggerutu bila dipanggil gurunya untuk memijat, terutama saat ngantuk atau saat bermain dengan teman-temannya.

Suatu waktu, beberapa temannya saat bicara surga dan neraka berkata: "Enaknya ya kalau masuk surga." Lalu salah seorang temannya berkata kepada Karyo: "Kamu sih enak sekali Karyo, jelas masuk surga karena sering bersama kiai, sering memijat kiai." Karyo menjawab: "Aku tidak mau masuk surga, nanti aku ketemu kiai terus dan akhirnya di minta memijat terus. Capek."

Karyo lupa bahwa di surga tidak ada pegel linu, capek, sarap kejepit atau sakit pinggang. Mungkin karena salah omong inilah maka Karyo masih gagal terus dalam hidup. Beberapa temannya menyarankan istighfar dan minta maaf kepada sang kiai. Apa respon Karyo atas saran ini? Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM #MatKelor
BERITA TERKAIT
Bahagiakan Diri dengan Membahagiakan Orang Lain
Kenikmatan Ibadah, Siapakah Pemiliknya?
Guide Kehidupan Menuju Arah Bahagia yang Tepat
Menjadi Manusia Terbaik, Manusia Pilihan
Mengapa Kita Harus Senantiasa Bersyukur?
(Mat Kelor Berhaji Lagi (30)) Didaulat Khutbah Jumat, Berhutbah Tentang Keluarga
(Mat Kelor Berhaji Lagi (29)) Kecerdasan Putra Mat Kelor

kembali ke atas