PASAR MODAL

Senin, 26 Agustus 2019 | 06:01 WIB

IHSG Masih Bisa Memerah

Wahid Ma'ruf
IHSG Masih Bisa Memerah
(Foto: inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)

INILAHCOM, Jakarta - Untuk pekan ini, IHSG berpeluang turun kembali menguji ke area support level 6.161.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, Secara teknikal, IHSG terlihat masih bergerak dalam fase downtrend dalam jangka pendek. Rebound IHSG masih tertahan oleh downtrend resistance dikisaran 6.320.

Indikator teknikal MACD terlihat bergerak mendatar di bawah centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih terkonsolidasi pada fase downtrend dalam jangka pendek. "Apabila IHSG terus bergerak turun dan gagal bertahan di support 6.161, maka IHSG berpotensi membentuk pola bearish reversal double top dengan target pelemahan menuju kisaran 6.000-6.022," katanya seperti mengutip dari hasil risetnya, Minggu (26/8/2019).

Pada pekan ini tidak ada data dan kejadian ekonomi penting dari dalam negeri. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah Senin 26 Agustus 2019, Meeting negara G7, Rilis data durable goods orders AS.

Selasa 27 Agustus 2019, Rilis data GDP Jerman, Rilis keyakinan konsumen AS. Rabu 28 Agustus 2019, Rilis data cadangan minyak AS. Kamis 29 Agustus 2019 : Rilis data modal swasta Australia, Rilis data GDP AS. Jumat 30 Agustus 2019, Rilis data ijin bangunan Australia, Rilis data pendapatan dan pengeluaran personal AS.

Tertekan Perang Dagang
Bursa Wall Street ambruk pada perdagangan akhir pekan, setelah perang dagang antara AS dengan China semakin memburuk dan meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya resesi global. Presiden AS Donald Trump memerintahkan perusahaan-perusahaan AS untuk keluar dan berhenti berbisnis di China, setelah Beijing mengumumkan akan memberlakukan tarif baru atas barang-barang AS senilai US$75 miliar.

Sebagai respons dari keputusan China tersebut, Trump juga akan menaikkan bea yang ada atas US$ 250 miliar produk China menjadi 30% dari 25% pada 1 Oktober, dan tarif untuk US$ 300 miliar barang China lainnya, sekarang akan menjadi 15%, bukan 10% mulai berlaku pada 1 September mendatang.

Dow Jones anjlok 623,34 poin (-2,37%) menjadi 25.628,9, S&P 500 merosot 75,84 poin (-2,59%) menjadi 2.847,11 dan Nasdaq rontok 239,62 poin (-3%) menjadi 7.751,77. Dalam sepekan, ketiga indeks utama AS mengalami pelemahan dengan Dow Jones turun -0,99%, S&P 500 melemah -1,44%, dan Nasdaq melorot -1,83%.

IHSG Berkurang 0,4%
Sementara dari dalam negeri, IHSG berhasil berakhir menguat 16,352 poin (+0,26%) ke level 6.255,597 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell dengan menjual saham senilai Rp124 miliar di pasar regular. Dalam sepekan terakhir, IHSG turun -0,49% dengan diikuti oleh keluarnya dana asing sebesar Rp1,28 triliun di pasar reguler.

Pergerakan IHSG pekan lalu didominasi oleh sentimen global, seperti inverted yield curve AS yang mengindikasikan terbuka kemungkinan terjadinya resesi. Meskipun terjadi pelonggaran moneter berupa pemangkasan suku bunga acuan BI 7DRRR sebesar 25 bps menjadi 5,5%, namun gagal mengangkat IHSG.

"Diperkirakan IHSG akan kembali melanjutkan pelemahannya akibat situasi perang dagang AS-China memanas lagi."

#BursaSaham #DolarAS #IHSG #TrumpEffect
BERITA TERKAIT
Bursa Saham Asia Berakhir Beragam
IHSG Sisakan Kenaikan 0,05% ke 6.223,093
Pejabat China Penuhi Undangan AS Bahas Tarif
IHSG Bangkit 0,2% ke 6.233 di Awal Sesi
Bursa Saham Asia Bergerak Negatif
Serangan di Saudi, dari Politik ke Pasar Minyak
Harga Minyak Mentah Naik Respon Serangan di Saudi

kembali ke atas