MOZAIK

Selasa, 10 September 2019 | 00:02 WIB

Mengapa Kita Harus Senantiasa Bersyukur?

KH Ahmad Imam Mawardi
Mengapa Kita Harus Senantiasa Bersyukur?
(Foto: ist)

BARU turun dari panggung dakwah Kebun Dadap dalam rangka pengajian tentang Tahun Baru Hijriah. Ribuan jamaah kompak duduk di tanah lapang untuk bersama berdoa keberkahan di tahun 1441 H ini. Saya sampaikan tema sederhana saja sesederhana pemahaman saya yang penuh keterbatasan ini, yakni tentang perlunya semangat mensyukuri apa yang ada atau apa yang terjadi.

Yang perlu ditanamkan adalah keyakinan akan sifat rahman dan rahimnya Allah, keyakinan akan sifat adilnya Allah dan keyakinan akan sifat hakimnya Allah. Semua taksir yang terjadi adalah tak pernah bermuatan kedzaliman Allah kepada hambaNya. Dengan meyakini itu semua, maka tertutuplah pintu keluhan dan terbukalah pintu kesabaran dan kesyukuran.

Kita sering mempersepsi musibah sebagai nasib jelek yang pasti merugikan kita. Kita tak selalu sadar bahwa di balik takdir yang aeperti itu ada kisah indah yang Allah persiapkan bagi kita. Celakanya, saat kisah indah itu terjadi, keindahannya terkurangi oleh penyakit 'andaikata', yaitu andaikata sebelumnya tak terjadi musibah maka betapa akam lebih indah hidup ini.

Ketidakmampuan kita mensyukuri takdir yang dirasa tak nyaman adalah karena ketidaksabaran kita menunggu hikmah yang terpendam di dalamnya. Andai kita sesabar Nabi Yusuf menjalani takdir dibuang ke dalam sumur dan dipenjara akibat tuduhan palsu, maka kita akan memiliki akhir kisah hidup mulia dan bahagia. Sayangnya, dari awal derita kita terbiasa menjual keluhan dan mendramatisir derita.

Di awal tahun baru 1441 H ini marilah kita coba pejamkan mata dan memutar ingatan kita ke berbagai peristiwa yang terjadi di tahun 1440 H. Cobalah secara jujur kita ingat dan hitung nikmat yang telah kita terima, ingat dan hitung pula derita yang pernah kita rasakan, lalu bandingkanlah.

Saya yakin bahwa kesimpulannya akan sesuai dengan firman Allah: "Kalau kalian menghitung nikmat Allah, niscaya tak akan mampu menghitungnya dari begitu banyaknya." Ingatlah bahwa helaan nafas detik ini adalah nikmat yang luar biasa sebagai kelanjutan dari nafas pada detik-detik sebelumnya. Alhamdulillaah.

Bersyukurlah, maka keberkahan akan bertambah. Bersyukurlah, maka yang akan bersahabat dengan kita akan semakin banyak. Bersyukurlah, maka pintu-pintu yang terkunci akan menjadi terbuka. Salam, AIM. [*]

#AIM #PencerahHati #AhmadImamMawardi
BERITA TERKAIT
Semua Berkewajiban Dakwah Sepanjang Hidup?
Mengapa Merasa Kesepian?
Mutiara Terpendam dalam Surat Al-Fatihah
(Mat Kelor Berhaji Lagi (31)) Mat Kelor Berkisah, Tertawa, Kemudian Menangis
Kompak Menuju Masa Depan Lebih Cerah
Prinsip Hidup agar tak Terjatuh dalam Kecewa
Bahagiakan Diri dengan Membahagiakan Orang Lain

kembali ke atas