NASIONAL

Minggu, 13 Oktober 2019 | 21:06 WIB

Negara tak Boleh Kalah dari Bahaya Radikalisme

Muhammad Yusuf Agam
Negara tak Boleh Kalah dari Bahaya Radikalisme
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta PBNU menegaskan negara tidak boleh kalah dengan dadikalisme dan terorisme yang terjadi di tanah air sekarang ini.

Pemerintah diminta harus bersikap tegas terhadap aksi terorisme yang meresahkan masyarakat seperti kasus penyerangan Menko Polhukam Wiranto di Serang, Banten, belum lama ini. "Aparat kepolisian harus mampu mengungkap dan menindak aktor intelektual di balik aksi-aksi teror yang terjadi di tanah air.

Kami Nahdatul Ulama (NU) meminta aparat kepolisian harus mampu bertindak tegas terhadap radikalisme dan tidak boleh ada kesan negara kalah dalam menghadapi terorisme, ujar Ketua PB NU, KH Siad Aqil Siradj dalam keterangannya, Minggu (13/10/2019).

Said Aqil mengatakan, saat ini radikalisme sudah ada di mana-mana. Ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumbawa, Bima, Sulawesi Tengah dan lain-lain. Saat ini Indonesia sudah darurat terorisme dan radikalisme, karena selama ini kita bersikap terlalu ramah kepada mereka.

Maka demi menyelamatkan NKRI, menyelamatkan seluruh bangsa Indonesia, maka sekecil apapun yang mereka lakukan (terorisme) harus ditindak tegas, ucap Said. Said menuturkan bahwa tindakan terorisme adalah tindakan biadab yang jauh dari norma, agama dan akhlakul karimah. Apa yang mereka lakukan adalah tindakan biadab dan tidak sesuai dengan agama apa pun.

Jadi kita harus lawan bersama. Apalagi mereka sudah berani terang-terangan, ujarnya. Sementara itu, Staf Khusus Badan Pembina Ideologi PAncasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo dalam dialog Pancasila di Tengah Radikalisme yang digelar, Minggu (13/10) mengingatkan kembali bahwa radikalisme sudah mengancam keutuhan bangsa dan negara. "Saat ini radikalisme sudah sangat mengancam keutuhan bangsa. Karena paham-paham radikalisme ingin mengubah pancasila yang telah menjadi kesepakatan bangsa ini.

Maka ke depan tantangan kita adalah bagaimana memperkuat ideology pancasila dalam praktek kehidupan berbagsa dan bertanah air, urainya. Maka, tambahnya, bangsa ini perlu membumikan pancasila agar mampu menyentuh kaum milenial. Membumikan pancasila di kalangan anak muda penting dalam menangkal paham radikalisme.

Hal ini agar para kaum milenial tak mendapat masukan tentang agama dari sisi yang sempit sehingga kemudian menciptakan radikalisme tadi, tandasnya. Benny menambahkan bahwa radikalisme harus dilawan dengan gerakan kebudayaan. Radikalisme itu tidak berdiri sendiri.

Radikalisme itu akibat dari tata dunia yang tidak beradab, tidak adil, tata dunia yang dipenuhi permusuhan, tata dunia yang dipenuhi marjinalisme, dan cara melihat agama hanya dalam bahasa satu kebenaran, ujarnya. Menurut Benny, kebudayaan menjadi salah alat dan benteng untuk melawan radikalisme.

Karena itu, gerakan kebudayaan harus diperkuat. Tradisi-tradisi yang telah ada di masyarakat, misalnya bersih desa, selamatan, larung, dan tradisi-tradisi lain, harus dihidupkan kembali. Itulah benteng kekuatan menghadapi radikalisme. Mereka takut kalau tradisi itu kuat, lanjutnya.

Benny menambahkan, budaya-budaya lokal harus ditampilkan kembali dengan cara memberi kemasan baru agar tidak terkesan kuno dan menarik bagi anak-anak muda. Kreativitas seni budaya anak-anak muda yang bersifat masal harus ditampilkan.

#Radikalisme
BERITA TERKAIT
Jelang Kongres, Zulhas Diminta Jadi Ketum PAN Lagi
Mendagri Tito Harap Program Pemda - Pusat Sinkron
Said Aqil : Teroris Musuh Semua Anak Bangsa
Kapolri - Menteri LHK Bahas Penanganan Karhutla
Rumah Purwakarta Rusak Imbas Proyek Kereta Cepat
Kapolri Silaturahmi ke Pimpinan PBNU
KPK Jadwalkan Periksa Anak Yasonna Senin Depan

kembali ke atas