MOZAIK

Sabtu, 19 Oktober 2019 | 00:03 WIB

Cara Membuat Kesimpulan Hidup Gaya Desa

KH Ahmad Imam Mawardi
Cara Membuat Kesimpulan Hidup Gaya Desa
(Ilustrasi)

KEMARIN sore saya sempatkan bersilaturrahmi ke rumah Mbah saya di kampung pelosok yang masih khas aura desanya. Mbah saya sudah meninggal lama, tinggal bibi, paman, sepupu dua pupu dan kerabat dekat lainnya yang masih tinggal di sana.

Saya sebut khas aura desa karena semangat berkelompok (komunal) masih sangat kental. Berbeda dengan desa yang sudah mengkota yang orang-orangnya sudah bergaya individualistik, seakan tak begitu butuh kepada saudara dan tetangga, hanya butuh pada HP yang menghubungkan dirinya dengan orang di luar sana meski berjumpapun belum pernah.

Saat saya dan adik saya tiba di rumah Mbah, semua famili sehalaman panjang (khas rumah berderet satu halaman-tanean-panjang ) berkumpul bercerita tentang harga tembakau yang tak lagi mahal, hujan yang tak kunjung datang dan lain sebagainya. Lalu saya mulai bertanya tentang orang-orang yang merantau dari satu deret rumah famili di sana. Ternyata, tidak pastinya hasil pertanian telah mendorong para pemuda mengadu nasib ke kota bahkan provinsi dan negara lain. Bagaimana hasilnya? Dari sisi ekonomi mereka yang merantau tampak lebih mapan. Entah dari sisi kepuasan hatinya.

Ada satu keluarga yang memiliki anak 12 orang, bersebelahan rumah dengan satu keluarga yang hanya memiliki dua anak. Dulunya, banyak orang protes pada yang punya 12 anak itu dan menyarankan agar jangan punya banyak anak karena ladang sawahnya terbatas dan tak mungkin mencukupi biaya hidup 12 anak itu. Tetangga sebelah yang kebetulan menikah setelah keluarga itu memilih membatasi 2 anak saja biar semuanya nanti serba berkecukupan. Tentang masa depan dan rizki, dua keluarga ini memiliki dua logika yang berbeda: logika kepasrahan pada takdir dan logika matematis.

Faktanya kini adalah bahwa 12 anak itu banyak merantau dan rajin bekerja menggarap pertaniannya. Mereka bisa dibilang sukses. Ukuran suksesnya adalah bahwa semua anak memiliki rumah dan keluarga sendiri-sendiri dan sudah berangkat umroh/haji. Sementara yang 2 anak ternyata gagal dalam kerja karena terlalu dimanja dalam hidup kesehariannya. Saat duduk-duduk bersama kemarin, mereka menyimpulkan dengan cara sederhana saja: Hidup itu diatur Allah, jadi jangan ikut-ikut mengatur. Kaya miskin itu adalah takdir.

Kesimpulan yang didasarkan pada riset tetangga seperti ini sangat lazim di masyarakat desa. Karena itulah maka program KB yang disebut nuclear family, dua anak cukup, tidak banyak berlaku.

Bagi sebagian orang, kesimpulan seperti itu bisa dianggap sebagai fatalistik, pasrah yang passif dan lain sebagainya. Namun faktanya, begitulah cara mereka berbahagia di atas kemiskinan dan penderitaan hidup yang mereka jalani. Orang yang terlalu mengandalkan kemampuan pengaturan diri biasanya sering mengeluh pusing, sumpek, dan galau. Sementara yang pasrah hanya cukup berkata: Bedhe Allah, patenang atau Ada Allah, tenang saja.

Saya hanya menyampaikan kepada yang muda-muda agar dalam kepasrahannya itu ada semangat menjemput rizki Allah. Jangan malas dan bermanja-manja, karena hidup di dunia bukan untuk bermalas-malas dan bermanja-manja. Lalu saya kisahkan beberapa sahabat Rasulullah yang sukses, kaya dan hidup bermartabat tinggi sampai dijamin Allah sebagai ahli surga.

Saya katakan bahwa ada empat (4) kunci utama sukses, kaya dan bahagia para sahabat Rasulullah itu. Sayangnya, belum tuntas bercerita, matahari sudah mendekati tempat persembunyiannya ti batas langit arah barat. Saatnya saya pulang dan melanjutkan jadwal dakwah ke tempat lain yang lumayan jauh. Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Mendidik dengan Doa
'Jamu Jati' Sebagai Jamu Kebahagiaan
Sang Istri Shalihah, Istri Teladan
Mensyukuri Segenap Anugerah
Bersabarlah dan Jalani Segala Takdir
Mungkinkah Bisnis yang Sudah Mapan Jadi Bangkrut?
Bukan Kisah Karangan

kembali ke atas