MOZAIK

Selasa, 22 Oktober 2019 | 00:04 WIB

Pertemuan Kasih Sayang, Kebahagiaan dan Kesedihan

Pertemuan Kasih Sayang, Kebahagiaan dan Kesedihan
(Foto: ilustrasi)

SAAT saya mengakadnikahkan anak didik saya dengan seorang perempuan anak didik adik saya, saya melihat beberapa orang dari keluarga kedua mempelai mengusap tetesan air mata yang mengalir di pipi mereka. Tangisan apakah itu? Bukankah ada seribu satu tafsir atas air mata?

Teringatlah saya pada masa lalu saat saya diakad oleh mertua saya pada 1993 dulu, mertua dan orang tua saya meneteskan air mata. Saat saya bertanya kepada Abah saya mengapa menangis, beliau menjawab singkat: "Pada waktunya engkau akan memahami." Saya mengerti makna sesungguhnya dari air mata saat akad nikah baru saja saat saya menikahkan puteri pertama saya awal 2019. Ada bahagia, ada kasih sayang dan ada "sedih" juga. Kok bisa?

Saya dan mertua saat mengucapkan ijab (pernyataan menikahkan ananda) lancar-lancar saja walau harus sedikit sesenggukan dengan tetesan air mata itu. Yang ingin saya kisahkan kini adalah akad nikah yang dilaksanakan sahabat saya yang tak mampu melanjutkan lafadz akad karena tangisan sedu sedannya, tangisan yang tiada henti. Akad akhirnya diwakilkan pada kiai yang duduk diaebelahnya.

Semua orang bertanya-tanya mengapa tangisannya sedemikian hebat. Semua menduga bahwa karena rasa bahagianya karena anak perempuan satu-satunya telah mendapatkan jodoh yang baik, juga karena kasih sayangnya yang luar biasa kepada yang puteri, juga karena sedih belum bisa memberikan yang terbaik dari sisi pendidikan hidup kepada puterinya yang akan dilepaskan untuk dirangkul seorang lelaki baru dalam hidupnya.

Benarkah tiga alasan itu yang ada di balik tangisan beliau? Saya tidak yakin hanya karena tiga alasan itu. Lalu, setelah acara ramah tamah, saya beranikan diri bertanya mengapa beliau menangis saat akad tadi. Apakah jawabannya? Beliau kembali menangis, beliau letakkan piring yang ada di tangannya, saya kaget dan merasa bersalah telah bertanya hal pribadi. Saya menyabarkan diri menunggu jawabannya. Namun akhirnya saya terlarut dalam tangisan juga saat puterinya memeluknya sambil menangis pula. Ah, sungguh hari yang penuh tangisan.

Kita sepakat bahwa kasih sayang dan perhatian orang tua kepada anak adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Namun adakah hal lain yang ada di balik tangisan sahabat yang saya ceritakan itu? Iya, ada. Mengingatnya membuat tetesan air mata saya menangis kembali. Maafkan saya, mau menangis dulu. Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Sang Istri Shalihah, Istri Teladan
Mensyukuri Segenap Anugerah
Bersabarlah dan Jalani Segala Takdir
Mungkinkah Bisnis yang Sudah Mapan Jadi Bangkrut?
Bukan Kisah Karangan
Energi Positif Manusia
Ke Mekkah pun Berburu Emas

kembali ke atas