NASIONAL

Selasa, 22 Oktober 2019 | 14:31 WIB

Alasan Polisi Sempat Amankan Egi Sudjana

Happy Karundeng
Alasan Polisi Sempat Amankan Egi Sudjana
(Foto: ist)

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Suyudi Ario Seto mengatakan pihaknya memang sempat mengamankan Partai Amanat Nasional (PAN) Eggi Sudjana.

Pasalnya, Egi berada di dalam grup WhatsApp 'kelompok peluru ketapel' yang enam penghuni grupnya dicokok buntut berupaya menggagalkan Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2019-2024, Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin pada Minggu 20 Oktober 2019 lalu.

Suyudi menyatakan, Eggi diamankan untuk klarifikasi terkait kenapa bisa ada di dalm grup WA ini. Namun hasil pemeriksaan menyatakan Eggi tak berkaitan dengan rencana keenamnya. Eggi bisa sampai masuk grup WA mereka karena diundanh oleh salah satu admin grup.

"Keterangannya yang bersangkutan (Eggi) di masukan dalam group," katanya, Selasa (22/10/2019).

Setelah diselidiki, salah satu tersangka yang merupakan pembuat grup, adalah SH. SH mengaku kenal Eggi secara personal. Sehingga ia pun memasukkan Eggi dalam grup percakapan WhatsApp tersebut.

Sebelumnya, kuasa hukum Eggi, Alamsyah Hanafiah, menjelaskan kliennya memang kerap berkomunikasi dengan salah satu tersangka, tapi hal itu bukan terkait rencana keenamnya melainkan karena Eggi menjadi pelanggan yang kerap memesan jasa pijatnya.

"Ya SH dan Eggi saling mengenal (sehingga Eggi dimasukkan kedalam grup)," kata Suyudi lagi.

Diberitakan sebelumnya, Egi Sudjana kembali ditangkap polisi. Eggi dijemput polisi di kediamannya, kawasan Bogor, Jawa Barat, Minggu 20 Oktober pukul 01.30 WIB.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menyebut, Eggi dimintai keterangan ihwal rencana penggagalan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di Gedung DPR RI. Dalam hal ini, Eggi berstatus sebagai saksi.

Argo menuturkan, Eggi berada di WhatsApp Grup (WAG) rencana penggagalan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden. Kala itu, Eggi diminta untuk menyumbang dana pembuatan bom. Argo mengatakan jika Eggi tak mengindahkan tawaran tesebut. Meskipun begitu, pihak kepolisian tetap harus dimintai keterangan. Namun, setelah pemeriksaan lebih dari 24 jam, Eggi pun diperbolehkan pulang ke rumahnya.

Diketahui, Polda Metro Jaya meringkus enam orang terkait upaya penggagalan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di Gedung DPR RI, Jakarta, Minggu, 20 Oktober 2019. Mereka antara lain berinisial SH, E, FAB, RH, HRS, dan PSM. Para tersangka tergabung dalam satu WhatsApp Group (WAG) berinisial F. Grup itu berisi pembahasan soal rencana penggagalan pelantikan.

Tersangka SH masih mempunyai hubungan dengan dosen nonaktif IPB, Abdul Basith. Sebab, keduanya berkomunikasi untuk rencana penggagalan pelantikan memakai ketapel dan bola karet. Bola karet itu digunakan untuk menyerang aparat keamanan yang berjaga di Gedung DPR RI.

Bola karet itu ternyata dapat meledak karena dirancang seperti mercon banting yang dapat meledak jika dilemparkan dan berbenturan dengan benda lain, kemudian ada perantara mudah terbakar agar cepat menyambar. Misalnya, perantara bensin. Polisi menemukan sejumlah barang bukti, di antaranya gotri, plastik ekslusif yang bisa meledak, ketapel, dan kelereng. [adc]

#EgiSudjana #Polisi
BERITA TERKAIT
Polisi Tangkap 74 Orang Pascabom Bunuh Diri Medan
Polisi Terus Buru Jaringan Teroris Medan
Bendahara Jaringan Kelompok Bom Medan Ditangkap!
Bom Medan, Polisi Kembali Amankan 26 Tersangka
Polisi Tangkap Muncikari Muda di Depok
Teman Ngaji Pelaku Bom Medan Diamankan Polisi
Aparat Sita Barang di Rumah Guru Ngaji Pelaku Bom

kembali ke atas