MOZAIK

Jumat, 08 November 2019 | 15:00 WIB

Mengobati Sihir dengan Mengorbankan Akidah

Mengobati Sihir dengan Mengorbankan Akidah
(Foto: Ilustrasi)

SESEORANG terkena sihir/santet, dan sudah berobat dengan ruqyah syariyyah, qadarullah belum sembuh, sekarang sudah tahun kedua. Ada yang bilang: Buhulnya harus diambil, sedangkan yang bisa mengambil hanya kyai dan dukun. Lantas bolehkah kita melakukan Nusyrah (mengobati sihir dengan sihir) kepada kyai untuk cari yang lebih selamat? Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika disihir, Allah sembuhkan karena terambil buhulnya, dan ini diketahui karena wahyu, sedangkan kita?

Allah Yuhayyika (memuliakanmu), semoga Allah segera memberi kesembuhan, memang buhul (ikatan) sihir kalau bisa didapatkan dan dimusnahkan maka itu lebih baik dan lebih cepat kesembuhannya, sebagaimana ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersihir. Namun kalau tidak didapatkan, maka cukup dengan ruqyah dari bacaan Alquran dan dzikir-dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Adapun datang kepada dukun dengan tujuan supaya mencarikan buhul (ikatan) tersebut maka tetap tidak diperbolehkan. Karena dukun tersebut tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan bantuan jin pula. Dan jin tidak akan mau membantu manusia kecuali setelah manusia itu mau kufur kepada Allah. Allah taala berfirman, mengabarkan ucapan para jin: "Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Qs. 72:6)

Dan di dalam hadis barang siapa yang mendatangi dukun kemudian membenarkan apa yang dia katakan, maka dia telah mengingkari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda Rasulullallah shallallahu alaihi wa sallam: Barang siapa yang mendatangi seorang dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dia katakan, maka dia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. (HR . Ahmad , dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany di dalam Shahih Al-jami no: 5939)

Perlu diketahui, bahwa sebagian kyai yang kita anggap berpegang teguh dengan agama namun amalan yang dilakukan sama dengan amalan-amalan para dukun. Jadi yang kita lihat bukan namanya akan tetapi hakikatnya, karena racun tetap berbahaya meskipun kita namakan susu. Jangan tertipu dengan sebagian mereka yang berusaha menutupi mantra-mantra setan mereka dengan bacaan Alquran atau dengan lafadz-lafadz bahasa arab. Karena ini adalah cara mereka untuk menipu konsumen.

Nasihat saya berusahalah mencari buhul (ikatan) tersebut di tempat-tempat yang diperkirakan digunakan untuk menyimpannya seperti di atas lemari atau di bawah kasur, atau di pohon sekitar rumah dll, dan memohonlah kepada Allah supaya dipermudah mendapatkan tempat buhulnya. Sambil terus membacakan ruqyah yang syariyyah. Dan bertakwalah kepada Allah, seringlah memohon ampun kepadaNya, karena Allah menjanjikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa, Allah berfirman:

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. (Qs. 65:2)
Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Qs. 65:4)

Jika ditemukan buhul tersebut alhamdulillah, kalau belum maka jangan putus asa, terus dibacakan ruqyah syariyyah entah secara langsung atau dengan kaset. Seandainya Allah menakdirkan kesembuhan maka ini merupakan rahmat dan anugerah Allah, kalau tidak maka itu sudah Allah kehendaki dengan hikmah yang Allah ketahui. Kewajiban kita hanya berusaha, sementara hasilnya hanya di tangan Allah. Dan musibah yang menimpa seorang mukmin kalau dia bersabar maka akan menjadi penebus dosa atau pengangkat derajatnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah menimpa seorang mukmin sakit yang berkelanjutan, kelelahan, penyakit, dan kesedihan sampai rasa resah gelisahnya kecuali Allah akan menghapuskan dengannya sebagian kejelekkan-kejelekkannya. (HR. Al-Bukhary Muslim)

Lebih baik kita bersabar sebentar untuk mendapatkan kebahagian yang kekal, dari pada bahagia sebentar namun harus mengorbankan akidah kita. Kita berdoa kepada Allah dengan nama-namaNya yang paling baik dan sifat-sifatNya yang paling tinggi, untuk menyembuhkan saudara-saudara kita yang sakit. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan doa. Wa billahit taufiq. [Ustadz Abdullah Roy, Lc.]

BERITA TERKAIT
Salahkah Jika Muslim Amini Doa Orang Kafir?
Doa Orang Kafir Sia-Sia Belaka?
Dua Cara Terhindar dari Siksa Kubur
Ini Hukuman Bagi Media Penyebar Hoax
Hukum Ereksi Ketika Sedang Salat
Solusi Pernikahan: Tak Bisa Melupakan Mantan
Rumah Tangga Bertengkar? Hindari Tiga Hal Ini

kembali ke atas