MOZAIK

Selasa, 19 November 2019 | 21:00 WIB

Syair : Rahasia Wangi Tanah

Syair : Rahasia Wangi Tanah
(Foto: Ilustrasi)

Inilah ziarah di tengah nisan-nisan tengadah
di bukit serba kemboja. Matahari dan langit lelah
Seorang nenek, pandangannya tua memuat jarum cemburu
menanyakan, mengapa aku berdoa di kubur itu

Aku anak almarhum, jawabku dengan suara gelas jatuh
pipi keriput itu menyimpan bekas sayatan waktu
Lewat berpuluh kemarau
telah kubersihkan kubur di depanmu
karena kuanggap kubur anakku

Hening merangkak lambat bagai langkah siput
Tanpa sebuah sebab senyumnya lalu merekah
Seperti puisi mekar pada lembar bunga basah

Anakku mati di medan laga, dahulu
saat Bung Tomo mengibas bendera dengan takbir
Berita itu kekal jadi sejarah: Surabaya pijar merah
Ketika itu sebuah lagu jadi agung dalam derap
Bahkan pada bercak darah yang hampir lenyap

Jadi di lembah membias rasa syukur
Pada hijau ladang sayur, karena laut bebas debur

Aku telah lelah mencari kuburnya dari sana ke mana
Tak kutemu. Tak ada yang tahu
Sedangkan aku ingin ziarah, menyampaikan terimakasih
atas gugurnya: Mati yang direnungkan melati
Kubur ini memadailah, untuk mewakilinya

Tapi ayahku sepi pahlawan
Tutur orang terdekat, saat ia wafat
Jasadnya hanya satu tingkat di atas ngengat
Tapi ia tetap ayahku. Tapi ia bukan anakmu

Apa salahnya kalau sesekali
kubur ayahmu kujadikan alamat rindu
Dengan ziarah, oleh harum kemboja yang berat gemuruh
dendamku kepada musuh jadi luruh

Sore berangkat ke dalam remang
Ke kelepak kelelawar
Hormatku padamu, nenek! Karena engkau
menyimpan rahasia wangi tanahku, tolong
beri aku apa saja, kata atau senjata!

Aku orang tak bisa memberi, padamu bisaku cuma minta:
Jika engkau bambu, jadilah saja bambu runcing
Jangan sembilu, atau yang membungkuk depan sembilu!

Kelam mendesak kami berpisah. Di hati tidak
Angin pun tiba dari tenggara. Daun-daun dan bunga ilalang
memperdengarkan gamelan doa
Memacu roh agar aku tak jijik menyeka nanah
pada luka anak-anak desa di bawah
Untuk sebuah hormat
Sebuah cinta yang senapas dengan bendera
Tidak sekedar untuk sebuah palu

[D. Zawawi Imrom]

BERITA TERKAIT
Dengki Membuat Rugi
Madu di Tangan Kananmu, Racun di Tangan Kirimu
10 Sebab Dihapuskannya Dosa
Niat Salah Jelang Pernikahan
Amalan dengan Keuntungan Dunia dan Akhirat
7 Kenikmatan yang Dekat dengan Takabur
Sedekah Membawa Berkah Bukan Omong Kosong

kembali ke atas