MOZAIK

Selasa, 03 Desember 2019 | 21:00 WIB

Syair : Belantara Kota

Syair : Belantara Kota
(Foto: Istimewa)

Rumput. Ombakkah yang
di laut. Hiu, ikan cucut, kau
lupa siapa cucumu. Di hulu sungai
badak. Salak srigala di belantara kota.

Kamarku di sana, beratap pengap,
berdinding kaca, langit-langit undian,
tujuhpuluhlima juta. Mari bergadang,
main kartu, minum arak, makan sajak,

bicara mahasiswi, jingkrak
jingkrak, berteriak! Kaset pusing
merintihkan daging. Hiburan murahan.

Sedang dulu karuhun
nayuban sampai pagi, minum kopi
merangkul penari, hidup dalam gamelan mimpi.

Itu zaman penjajahan
Kami jauh lebih dewasa, begitu
sederhana dalam alam merdeka. Antara
gubuk-gubuk dan rumah mewah, barang berlimpah.

Sarapan menganga: kopisusu, rotibakar dan
matasapi. Airjeruk ekstra. Ayam apa pula
bertelur tanpa berkelamin makan vitamin dalam
bumbung janin? Cinta memerlukan dapur, tempat tidur.

Rumput. Ombakkah yang
di laut. Hiu, ikan cucut, kau lupa
siapa cucumu.Dulu kau mengira bahagia.

Kami, dari hari
ke hari memupuk diri
dengan pinjaman mimpi.

[Wing Kardjo]

BERITA TERKAIT
Buang Keluh-kesah, Perbanyak Zikir
Orang yang Paling Berbahagia
Akhlak Bidadari Surga, Tirulah Mereka...
Pintu Perselingkuhan
Komunikasi Mencari Solusi, Bukan Meluapkan Emosi
Menikah dengan Tuntunan Syariah
Renungan Jelang Pernikahan

kembali ke atas