GAYA HIDUP

Selasa, 03 Desember 2019 | 16:15 WIB

Penyebab Penyakit Tidak Menular Harus Dikendalikan

Mia Umi Kartikawati
Penyebab Penyakit Tidak Menular Harus Dikendalikan
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kurang 5 tahun lagi Indonesia akan terdampak ancaman global penyakit tidak menular, hingga kini Indonesia belum memiliki regulasi yang mampu melindungi masyarakat dari penyakit tidak menular.

Kosumsi rokok masih tinggi dan dengan dibebaskannya iklan, csr, dan sponsorship rokok serta harga rokok yang murah menyebabkan anak-anak Indonesia masih menjadi objek rentan industri rokok untuk meregenerasi perokok aktif.

Diabetes menjadi ancaman nyata bagi anak-anak Indonesia melihat maraknya iklan minuman manis kemasan yang tidak diregulasi dan menyasar pada anak-anak.

Perlu diingat batas maksimal konsumsi gula per hari adalah 5 sendok teh, sementara gula dalam satu botol minuman kemasan isi 500 ml saja bisa mencukupi kebutuhan gula hingga 3 hari ke depan. Belum lagi junk food yang semakin mudah didapatkan dan kondisi lingkungan yang penuh polusi semakin membuat masyarakat kita semakin rentan terserang penyakit tidak menular.

Penyakit Tidak Menular di Indonesia semakin memprihatinkan.

Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi Penyakit Tidak Menular mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013, antara lain kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi.

Prevalensi kanker naik dari 1,4 persen (Riskesdas 2013) menjadi 1,8 persen; prevalensi stroke naik dari 7 persen menjadi 10,9 persen; dan penyakit ginjal kronik naik dari 2 persen menjadi 3,8 persen. Berdasarkan pemeriksaan gula darah, diabetes melitus naik dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen; dan hasil pengukuran tekanan darah, hipertensi naik dari 25,8 persen menjadi 34, 1 persen .

dr. Asmoko Resta Permana, Sp.JP dari Yayasan Jantung Indonesia mengungkapkan sejak tahun 2013 prevalensi merokok pada remaja (10-18 tahun) terus meningkat, yaitu 7,2% (Riskesdas 2013), 8,8% (Sirkesnas 2016) dan 9,1% (Riskesdas 2018).

"Data proporsi konsumsi minuman beralkohol pun meningkat dari 3% menjadi 3,3%. Demikian juga proporsi aktivitas fisik kurang juga naik dari 26,1% menjadi 33,5% dan 0,8% mengonsumsi minuman beralkohol berlebihan. Hal lainnya adalah proporsi konsumsi buah dan sayur kurang pada penduduk 5 tahun, masih sangat bermasalah yaitu sebesar 95,5%," kata Asmoko, seperti yang dikutip dari siaran pers, Jakarta, (03/12/2019).

Berdasarkan data yang tercatat pada Sistem Registrasi Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, angka kematian karena penyakit tidak menular pada 1990 adalah 37 persen.

Satu dekade kemudian, angka ini meningkat menjadi 49 persen. Kemudian, meningkat lagi menjadi 58 persen pada 2010. Lalu naik menjadi 71 persen pada 2014. Penyakit kardiovaskular dan diabetes menempati urutan teratas pada beban penyakit tidak menular secara nasional, papar dr Asmoko.

Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular juga terlihat pada kasus dimensia. Direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia (ALZI), Patricia Tumbelaka mengungkapkan jumlah orang dengan demensia (ODD) telah mencapai 1,2 juta orang pada 2019. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah hingga 4 juta orang di tahun 2050 dan akan memberi beban ekonomi senilai lebih dari USD2,2 miliar.(tka)

#penyebab #penyakittidakmenular #ptm #kesehatan #kenda
BERITA TERKAIT
Akses Layanan Kesehatan Online Semakin Mudah
Kisah Minyak Kutus Kutus Atasi Masalah Kesehatan
(Hepatitis A jadi Kejadian Luar Biasa di Depok) Total 262 Orang Tergejala Hepatitis A
Penting, Beri Tahu Orang Terdekat Terkait HIV
Dampak Penyakit Tidak Menular Meningkat
(Tingginya Penyakit Tidak Menular) Penyakit Ini Menambah Beban Negara
Tes HIV pada Ibu Hamil Sangat Penting

kembali ke atas