EKONOMI

Selasa, 03 Desember 2019 | 17:54 WIB

Batu Bara Tak Ganggu Ekosistem di Kawasan PLTU

Batu Bara Tak Ganggu Ekosistem di Kawasan PLTU
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Penggunaan batu bara sebagai bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sering dianggap bisa mempenagruhi lingkungan sekitar akibat limbah yang dihasilkan.

Peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman juga mengungkapkan hal menarik terkait pembangkit listrik tenaga uap batu bara (PLTU).

Dirinya mengaku pernah beberapa kali mengunjungi PLTU Paiton di Probolinggo Jawa Timur. Selama kunjungan, dirinya justru mengaku tidak menemukan keluhan dari masyarakat sekitar.

Sebagai catatan, PLTU Paiton sendiri sudah berdiri sejak tahun 1994 sebagai salah satu PLTU terbesar dan penyuplai listrik terbesar di daerah Jawa-Bali.

"PLTU Paiton itu menggunakan batu bara sebagai bahan bakunya dan yang paling menarik dia hanya berjarak 500 meter dari bibir pantai. Kami beberapa kali kesana, sejauh ini keluhannya tidak ada. Masyarakat malah sangat senang dengan kehadiran PLTU ini. Karena PLTU itu menjadi penopang ekonomi warga sekitar. Lalu terumbu karang dan biota-biota laut yang ada hidup di sekitar itu dan tidak terganggu dengan kehadiran PLTU itu," jelas Ferdy di Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Penemuan itu rupanya berbanding terbalik dengan asumsi yang dianutnya sebelum berkunjung ke Paiton. Sebab dengan jarang yang sangat dekat dengan bibir pantai banyak yang menganggap ekosistem laut disekitarnya akan terganggu.

"Nah ternyata dari penelusuran tidak demikian. Malah masih terjaga dengan baik, tidak ada satupun yang rusak. Itu hasil penelusuran kami di lapangan. Lalu keluhan keluhan dari masyarakat terkait dengan polutan polutan itu ya kajian kami di paiton itu belum ada ya. Ketika kami menelusuri lebih jauh ternyata manajemen bilang bahwa proses awal dalam pembuatan rancangan desain Paiton dilakukan dengan hati-hati," ujar Ferdy.

Menurut Ferdy, manajemen Paiton sedari awal sudah mengukur efek dan dampak jika terjadi kerusakan lingkungan hidup dari keberadaan PLTU itu.

"Sejak awal memang kalau kajian awalnya sudah merusak lingkungan hidup pasti tidak akan dikasih AMDAL oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan pasti akan diberi teguran-teguran. Nah pihak Kemen LHK sudah mengakui bahwa memang PLTU itu patut mendapatkan penghargaan karena memang pengelolaannya sangat bagus," ujar Ferdy.

Dirinya pun menemukan hal serupa pada PLTU unit 1 dan 2 di Cirebon. PLTU unit 1 Cirebon yang menggasilkan 660 megawatt dan akan dikembangkan ke unit 2 menjadi 1000 megawatt.

"Nah sama dengan Paiton, PLTU unit 1 Cirebon itu mengadopsi teknologi yang sama, menjaga jangan sampai mencemarkan lingkungan. Sampai sekarang Kemen LH pada kedua PLTU itu belum mengeluarkan teguran apa apa. Bahkan PLTU itu menjadi rujukan para peneliti bahwa ada sampel yang cukup sukses untuk membangun PLTU," ujar Ferdy.

Dengan demikian Ferdy berkesimpulan, meskipun secara teoritis batu bara mengandung karbon yang tinggi dan unsur polutannya besar, namun resiko itu bisa diminimalisir dengan manajemen yang mengelola PLTU dengan baik.

"Maka itu, perusahaan-perusahaan yang masuk dalam pengelolaan PLTU harus benar benar dikawal benar oleh Kemen LH dengan kerjasama Kementerian ESDM," tegas Ferdy.

Sejalan dengan pertimbangan tersebut di atas, oleh karenanya maka setiap PLTU yang ada di Indonesia sudah dilengkapi dengan Super Critical Represitator untuk me-reduce dan meminimalisasi sebaran fly ash buttom ash.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia Hendra Sinadia mengatakan, selain masih belum memanfaatkan batu bara sebagai bahan baku energi, Indonesia juga belum bisa memanfaatkan limbah batu bara yang dianggap sebagai limbah B3 atau bahab berbahaya dan beracun.

"Limbah batu bara, abu batu bara itu bisa digunakan untuk bahan konstruksi di berbagai negara. Cuma di sini saja dianggapnya sebagai B3. Ini kan jadi masalah. Padahal di negara-negara lain seperti di Jepang. Limbah batu bara itu dijadikan bahan konstruksi, bahan bendungan, jalan. Jumlahnya besar, bisa dimanfaatkan sebenarnya," katanya.[jat]

#PLTU #BatuBara
BERITA TERKAIT
Pertamina jadi Penyumbang Deviden Terbesar Negara
Di Paviliun Indonesia, AL Gore Puji Aksi Indonesia
Jokowi Pastikan Kereta Cepat & LRT Selesai 2021
Bea Cukai Ungkap Ganja Sampai ke Kolaka
Bea Cukai Malang Gempur Ratusan Ribu Rokok Ilegal
Bea Cukai Makassar Tindak Obat dan Makanan Ilegal
UE Persulit Sawit RI, Dubes Vincent Ngeles Begini

kembali ke atas