MOZAIK

Sabtu, 14 Desember 2019 | 12:00 WIB

Mata Jelalatan, Hati Liar Mengumbar Syahwat

Mata Jelalatan, Hati Liar Mengumbar Syahwat
(Ilustrasi)

PERHATIKANLAH bagaimana Rasulullah telah mewanti-wanti kepada kita sekalian lewat sabda beliau, Hati-hatilah pada dunia dan hati-hatilah pada wanita karena fitnah pertama bagi Bani Israil adalah karena wanita. (HR. Muslim)

Kini, di era globalisasi, ketika arus informasi begitu deras mengalir, godaan begitu gampang masuk ke rumah-rumah kita. Cukup dengan membuka surat kabar dan majalah, atau dengan mengklik tombol remote control, godaan pun hadir di tengah-tengah kita tanpa permisi, menampilkan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok memamerkan aurat yang semestinya dijaga.

Lalu, sebagian muslimah ikut-ikutan terbawa oleh propaganda gaya hidup seperti ini. Pakaian kehormatan dilepas, diganti dengan pakaian-pakaian ketat yang membentuk lekuk tubuh, tanpa merasa risih. Godaan pun semakin kencang menerpa, dan pergaulan bebas menjadi hal biasa.

Maka, kita perlu merenungkan dua bait syair yang diucapkan oleh Sufyan Ats-Tsauri:

Kelezatan-kelezatan yang didapati seseorang dari yang haram, toh akan hilang juga, yang tinggal hanyalah aib dan kehinaan, segala kejahatan akan meninggalkan bekas-bekas buruk, sungguh tak ada kebaikan dalam kelezatan yang berakhir dengan siksaan dalam neraka.

Seorang ulama yang masyhur, Ibnul Qayyim pun memberikan nasihat yang sangat berharga:

Allah Subhanahu wa taala telah menjadikan mata itu sebagai cerminan hati. Apabila seorang hamba telah mampu meredam pandangan matanya, berarti hatinya telah mampu meredam gejolak syahwat dan ambisinya. Apabila matanya jelalatan, hatinya juga akan liar mengumbar syahwat Wallahul Mustaan.

[Ustadz Abu Harun Aminuddin]

BERITA TERKAIT
Manusia Tempatnya Salah dan Lupa
Pentingnya Bahasan Seks dari Sisi Moral dan Agama
Yang Disebut Wali Allah
Lalai Ibadah, Tersibukkan dengan Anak dan Istri
Memilih Pemimpin yang Menguntungkan Semua Pihak
Sifat Amanah dan Kepemimpinan Ideal
Kuat, Kriteria Pemimpin Ideal!

kembali ke atas