MOZAIK

Sabtu, 11 Januari 2020 | 00:03 WIB

Ini yang Terbaik Bagiku

KH Ahmad Imam Mawardi
Ini yang Terbaik Bagiku
(Foto: Ilustrasi)

KALAU kita ingin memperoleh ridho Allah, maka kunci utamanya adalah bahwa kita harus ridho akan setiap hal yang ditakdirkan olehNya kepada kita. Ketidakridhoan kita atas takdir hanya akan memperpanjang kekecewaan dan kesedihan.

Demikian kesimpulan dari beberapa kitab yang saya baca tentang ridla. Melawan takdir adalah sama dengan melawan ombak dan melawan angin, yakni berat dan melelahkan serta berakhir dengan segala bentuk ketaknyamanan.

Ridho didefinisikan dengan indah oleh Ibnu Qayyim dalam kitab "Madaarij al-Saalikiin"nya sebagai keyakinan seorang hamba bahwa semua keadaan, ketentuan takdir, sejatinya adalah sama baginya, yakni sama-sama sebagai ujian dari Allah (istiwaa' al-haalaat 'inda al-'abd). Rabi'ah Adawiyah sang pelopor madzhab cinta menyatakan: "Jika tibanya musibah adalah menyenangkan bagimu sebagaimana hadirnya nikmat menyenangkan bagimu, maka dirimu termasuk orang yang ridla kepada Allah."

Ternyata berat sekali untuk masuk katagori orang yang ridho. Kita harus mampu menyatakan atas segala macam takdir: "ini yang terbaik padaku saat ini." Semua pengeluh yang suka mengkerutkan dahi sambil geleng kepala sepertinya masuh jauh dari zona ridhoyang dibahas tadi. Tak jarang ada yang bertanya apakah mungkin seseorang merasa senang saat ditimpa musibah? Adakah yang tersenyum saat ditipu? Adakah yang gembira saat sakit? Adakah yang tetap tenang dan santai saat badai menerjang kehidupannya?

Sepertinya kita perlu berkaca pada sejarah manusia-manusia pilihan Allah yang tetap tegar dalam hidup walau bertubi-tubi didera musibah dan ujian. Para nabi dan rasul disebut sebagai "al-miizaan al-kubraa" (timbangan besar) yang bisa digunakan untuk menakar dan menimbang keridlaan kita. Mereka tetap baik sangka kepada Allah dan yakin bahwa semuanya berjalan di atas ketentuannya dan di bawah pengawasannya. Mereka pun mulia bahagia dalam bentuknya yang bervariasi satu dengan lainnya.

Pertanyaan intinya adalah apa saja tahapan-tahapan yang harus kita lalui dalam mendidik dan melatih jiwa untuk ridla seperti manusia pilihan itu? Saya senang dengan lima langkah utama yang bisa kita petik dari uraian para bijak. Salah satunya adalah sering-seringlah mengunjungi orang sakit, orang-orang yang tertimpa musibah, orang-orang miskin, orang-orang terpinggirkan, dan sejenisnya. Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Merekayasa Kesan Diri
Cara Membaca Jenis Kesedihan
Membaca Jenis Harta Kita
Berbagi Tugas Mulia, Menyimpulkan Kehidupan
Mencari Ketenangan Hati
Catatan Penggembira Bagi yang Diterpa Derita
Nilai dan Harga itu Berbeda Saudaraku

kembali ke atas