PASAR MODAL

Senin, 13 Januari 2020 | 00:17 WIB

Inilah Penggerak IHSG Pekan Ini

Wahid Ma'ruf
Inilah Penggerak IHSG Pekan Ini
(inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - IHSG berpeluang untuk rebound pekan ini. Kondisi ini seiring tensi konflik antara AS dan Iran di Timur Tengah sedikit kendur karena kedua negara menahan diri untuk tidak meningkatkan eskalasi, serta harapan terhadap kesepakatan perdagangan AS-China.

Penasehat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow mengatakan bahwa kesepakatan perdagangan AS-China tahap pertama akan segera ditandatangani pada 15 Januari 2020 mendatang.

Sementara itu menguatnya nilai tukar rupiah terhadap US dollar ke level Rp13.773/US$ dan naiknya cadangan devisa sebesar US$2,6 miliar ke posisi US$129,2 miliar per akhir desember 2019, akan menjadi katalis penopang pergerakan IHSG di pekan ini.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, secara teknikal setelah berhasil keluar dari downtrend channelnya, IHSG terlihat mulai mengalami konsolidasi. IHSG masih mampu bertahan diatas penembusan dari resisten tren turunnya dan terlihat bergerak relatif datar.

Indikator teknikal MACD masih diatas centreline tapi mulai bergerak turun dengan histogram bar di area negatif. "Kondisi ini menunjukan bahwa IHSG masih bergerak mixed, namun ada potensi untuk bergerak menguat lagi apabila mampu membuat higher high dengan menembus level tertinggi sebelumnya di level 6.337," seperti mengutip hasil risetnya, Minggu (12/1/2020).

Untuk pekan ini, IHSG berpotensi akan bergerak area support 6.210-6.218 dan resistance dikisaran 6.337-6.348. Apabila mampu melewati 6.348, maka IHSG berpeluang menuju resistance selanjutnya di level 6.414.

Untuk pekan ini, pelaku pasar akan mencermati rilis data ekspor-impor dan data perdagangan bulan desember pada hari Rabu (15/1/2020). Diperkirakan defisit perdagangan akan menurun jika dibandingkan pada bulan sebelumnya yang tercatat mengalami defisit sebesar US$1,33 miliar.

Sementara dari luar negeri, pekan ini cukup banyak data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar, diantaranya adalah:
-Senin 13 Desember 2020, Rilis data perdagangan dan GDP Inggris.
-Selasa 14 Januari 2020, Rilis data inflasi AS
-Rabu 15 Januari 2020, Rilis data GDP Jerman, Rilis data inflasi Inggris.
=Kamis 16 Januari 2020, Kebijakan moneter ECB, Rilis data penjualan ritel AS, Pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde.
-Jumat 17 Januari 2020, Rilis data GDP China, Rilis data penjualan ritel Inggris.

Meski secara teknikal IHSG masih terlihat mengalami konsolidasi dalam fase sideways jangka pendek. Namun ada potensi untuk kembali bergerak menguat seiring sentimen positif dari kesepakatan dagang tahap satu antara AS-China yang akan ditandatangi di White House pada pekan ini.

Kementrian perdagangan China mengatakan bahwa Wakil PM China, Liu He akan terbang ke Wahington untuk menandatangani perjanjian dagang yang telah dicapai sebelum akhir tahun lalu.

Investor harus selalu waspada serta berhati-hati apabila kondisi pasar kembali menjadi tidak kondusif dan market mengalami ketidakpastian lagi, karena masih ada ganjalan dari masalah di Timur Tengah. Meski saat ini tensi geopolitik di Timur Tengah sudah mulai tampak mereda, disarankan tetap berhati-hati karena kemungkinan sewaktu-waktu bisa saja kembali memanas.

Untuk itu disarankan tetap memantau pekembangan situasi kondisi global dan selalu kontrol risiko, sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. "Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive, bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah."

Tergelincir Data Ekonomi
Bursa Wall Street tergelincir dari level tertingginya pada akhir pekan, setelah data lapangan kerja di AS pada bulan Desember lebih lambat dari perkiraan.

Data lapangan kerja di AS periode Desember 145.000, di bawah perkiraan sebanyak 164.000. Namun para analis menyatakan data rekrutmen tersebut lebih dari cukup untuk menjaga ekspansi ekonomi AS.

Sedangkan persentase pengangguran sebesar 3,5%, merupakan terendah dalam 50 tahun terakhir. Upah per jam rata-rata naik 0,1% pada bulan sebelumnya. Laporan tenaga kerja tersebut menjadi alasan bagi investor untuk mengambil aksi profit taking.

Dow Jones turun 133,13 poin (-0,46%) menjadi 28.823,77, S&P 500 kehilangan 9,35 poin (-0,29%) menjadi 3.265,35 dan Nasdaq melemah 24,57 poin (-0,27%) menjadi 9.178,86. Untuk sepanjang minggu kemaren, Dow Jones berhasil menguat +0,66% dan S&P 500 naik +0,94%.

Sedangkan Nasdaq meningkat +1,75% dan memperpanjang kenaikan menjadi pekan kelima berturut-turut.

IHSG Lanjutkan Pelemahan
Dari dalam negeri, IHSG bergerak flat pada akhir pekan dan ditutup menguat tipis +0,4 poin (+0,01%) ke level 6.274,941. Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp18 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan IHSG turun -0,77%, dengan diikuti oleh aksi jual investor asing sebesar Rp227 miliar di pasar reguler.

Memasuki pekan kedua di tahun 2020, IHSG kembali terkoreksi melanjutkan pelemahan di pekan pertama awal tahun ini. Pelemahan IHSG pada pekan lalu disebabkan oleh kekhawatiran pelaku pasar atas konflik geopolitik di Timur Tengah antara AS dan Iran.

Sementara dari dalam negeri, kasus Jiwasraya dan kisruh rontoknya portfolio saham Asabri menjadi perhatian investor. "Efek psikologis dari berbagai sentimen tersebut membuat pelaku pasar masih cenderung berhati-hati dalam memasuki pasar."

#BursaSaham #DolarAS #IHSG #TrumpEffect
BERITA TERKAIT
Inilah Penggerak Bursa Saham AS
Jerman Tak Takut Ancaman Tarif Trump
Bursa Eropa di Jalur Positif Respon Sikap WHO
AS Salah Waktu Lakukan Perang Tarif dengan China?
Libur Imlek Redam Aksi Virus Corona di Bursa Asia
Harga Minyak Turun 2% Terserang Virus Corona
Virus Corona Picu Investor Pilih Emas

kembali ke atas