MOZAIK

Selasa, 14 Januari 2020 | 00:06 WIB

Kapankah Hidup Bisa Dianggap Sempurna?

KH Ahmad Imam Mawardi
Kapankah Hidup Bisa Dianggap Sempurna?
(Ilustrasi)

KESEMPURNAAN hidup sejati tentu saja tak akan didapatkan dalam hidup di dunia ini, karena dunia ini adalah tempat tinggal dari kekurangan atau ketaksempurnaan. Di surga kelaklah kita akan bisa mendapatkan kesempurnaan yang sesungguhnya. Semoga kita termasuk salah seorang calon penduduk surga kelak.

Sesempurna apapun kekayaan seseorang, pasti saja dia membutuhkan sesuatu yang belum dimilikinya. Sesempurna apapun kecerdasan seseorang, pasti saja pendapatnya tak mencapai kebenaran absolut dan selalu saja memiliki kemungkinan untuk salah. Seganteng atau secantik apapun seseorang, masih saja ada sisi yang bisa dianggap sebagai kekurangannya. Lalu, apa syarat seseorang sudah bisa dianggap sempurna dalam hidup?

Pertanyaan inilah yang akan saya jawab dalam orasi ilmiah dalam acara wisuda sarjana S1 IAIFA Kediri hari ini. Karena IAIFA ini adalah bagian dari pondok pesantren, maka mayoritas rujukan saya adalah dari kitab-kitab yang biasa dibaca oleh komunitas pesantren. Salahsatunya adalah kitab "al-Hikam" karta Habib Abdullah Alawi al-Haddad halaman 26.

Beliau menyatakan bahwa kesempurnaan itu memiliki 4 komponen yang harus ada secara bersama-sama: pertama adalah ilmu. Mengapa ilmu? Karena hanya dengan ilmulah maka hak Allah bisa diketahui. Seseorang yang tak mengerti kewajiban dirinya kepada Tuhannya sungguh seseorang yang telah kehilangan esensi diri sebagai manusia; kedua adalah mengamalkan ilmu atau pengetahuannya itu, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya; ketiga adalah ikhlas dalam beramal, memurnikan segala sesuatu hanya untuk dan karena Allah; keempat adalah mengandalkan Allahvdalam kehidupannya dan merasa tak punya kemampuan dan kekuatan diri.

Mari kita berproses menuju kesempurnaan. Mari kita saling membantu dan saling mendoakan. Selamat wisuda. Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Merekayasa Kesan Diri
Cara Membaca Jenis Kesedihan
Membaca Jenis Harta Kita
Berbagi Tugas Mulia, Menyimpulkan Kehidupan
Mencari Ketenangan Hati
Catatan Penggembira Bagi yang Diterpa Derita
Nilai dan Harga itu Berbeda Saudaraku

kembali ke atas